Sabtu, 16 Oktober 2010
Lupa
ada yang mengumpat
pula mengeluh
kesal
karena lupa...
lalu kemudian apa jika dia telah membukit
masih ada itu umpatan
sanggupkah keluhan lagi meluncur
berbilur kesal yang muram...
yang kau peluk hanya tatap takut
tanpa daya...
karena, lagi-lagi lupa...
mengguyurlah
erangan-erangan akan kelam
sesalan
untuk kondisi, suatu suasana
terus dan menerus
lupa...
Tapak
yang satu-satu menyerbu
terusik ia
untuk berhenti saja di simpang ini
mungkin benar
mungkin sudah takdir
untuk tak membawa tapak
lebih jauh...
Senin, 11 Oktober 2010
Yang Berguguran atau Bertahan..
ketika berjalan
kemudian merasakan riuh rendahnya perjuangan
indahnya bongkahan-bongkahan pengorbanan
dan kemudian kerikil-kerikil berdatangan
berjatuhan…
tapak itu semakin kuat
dan kemudian semilir angin yang mendekat
membuliri tapak-tapak itu dengan kelenaan
perlahan pun, ternyata jalannya licin, ternyata semilirnya beku
Lelah, letih, jemu..
Ingin surutkan saja ke belakang
Mundur..
Maka saatnya kah pembuktian?
Antara yang berguguran dan bertahan..
Arus
Hanyut serpihan-serpihan yang sudah mulai sempurna
Menjadi puzzle yang terangkai gambarnya
Usiaku terus merambat
Detik demi detik merenta
Kularutkan diri saja dalam serpihan yang belum lagi sempurna…
SangKaKi
kakiku meliar
entah kemana maunya dia
kunci-kunci pemasungnya tak jua kutemukan
kukutuki kebodohan yang memaksa membuliri kepala
pindah, tukar otak
semua orang sudah binasa membinasa
begitu juga dengan kaki yang di dekat ini
oh… sungguh aku tak maksud dengan apa dia kini
sah saja karena kaki memang untuk menapak
kalau kemudian terinjak dia itu wajar saja
karena tempatnya tetap diletakkan di bawah
Udara Malam
Tak peduli aku akan masuk dari lubang hidungkah atau mulutkah?
Lubang telinga atau mungkin yang lainnya…
Kuresapkan lagi dalam-dalam
Akan beda tentu dengan dia di fajar dan di pagi
Tapi terserahlah..
Aku ingin udara yang malam ini saja
Sebab lisanku tlah bersumpah
Kukan mengutuk malam ini saja
mengeluh malam ini saja
dan kemudian bermimpi di malam ini saja
tak kan pernah kutunggu esok lagi untuk menamatkan kisah
Waktunyakah?
Meruas satu-satu rahasia yang tlah tercipta sejakku belum ada
Menapak di dasar bongkahan-bongkahan bumi
Menghirup seluas-luasnya udara yang tlah ada sejakku tak ada
Kadang kuingin dia tetap rapat untuk menjadi rahasia
Walau emosi tuk membuka juga tak kalah hebatnya
Aku meremang.. kenapa aku sepengecut ini?
Sementara pincangku mulai merambat
Dan dengan bodoh aku kembali bertanya
Apalagi ini?
Yang begitu membuatku takut
Akan bius rasa yang aku sama sekali tak tahu batasannya
Terasa sangat tak paham
Walau sebenarnya aku paham..
Sejauh mana aku tlah berjalan?
Bukankah ini bukan kelok pertama?
Atau di sinilah mungkin tempatku mereguk sedikit dahaga untuk bersiap menemui rahasia-rahasia lainnya?
Atau bolehkah aku menghempaskan semua sesak-sesak rahasia yang satu per satu datang kepermukaan
Rahasia yang sangat ingin tapi juga tak ingin kutahu
Mungkinkah…
Terlampau dini untukku..
Tapi bagaimana jika benar waktu itu tlah tiba??
Balada seonggok Jiwa
Di tengah rasa yang ingin menyendiri
Setelah keping-keping kerikil yang jatuh melukai
Kesendirian kian merambat
Dan… Ah, kemana mereka kemarin yang menunjukku?
Menjatuhkan talaknya padaku?
Kemana mereka kemarin yang memekik lantang ketika namaku dilontarkan?
Kemana mereka yang memeluk erat tubuhku saat rasanya aku begitu tak berdaya untuk mengemban ini kembali, lagi…
Kemana mereka yang begitu meyakinkanku?
Antum mampu menuntaskannya, kawan!
2 Mei 2010
Minggu, 04 Juli 2010
Langit Malam di...
Penghias langit di atas malam
Biasanya orang kan kagum, jika melihat sinar di tengah gelap
Tapi, di sini kau justru melihat terang yang tak diharap
Tak ada anak-anak yang bersorak riang di bawahnya
Seperti mercon-mercon yang ada di Negara kita
Tiada sama sekali bawa riang
Justru ketika itu bibir-bibir bergetar
Badan-badan kelu gemetar
desingan dan dentuman menyusul setelah cahaya …
Hingga siang datang
Kau kemudian melihat puing
Menatap mayat yang lagi-lagi mayat
Sosok yang tak sempat menghindar tadi malam
Atau malah sosok yang tak harap lagi hidup
Sehingga mati lebih jadi pilihan menyenangkan
Kau kan tampak wajah gagu
kemarin kulihat, memutih bibirnya
Kumal muka layuhnya oleh air mata yang mengering di kedua pipi mungilnya
Menatap takut pada setiap orang baru yang menghampirinya…
Ah, dia terlalu dini untuk kenal meriam, bom, dan potongan-potongan mayat…
Selasa, 29 Juni 2010
Black Campaign di Sarangintelek
Wajah sengirnya
Choose yang berkumis
Lalu kemudian setelah bubaran
Mereka baru berani berbisik-bisik
Mengumpat…
Atau sedikit bercerita kepada anak istri di rumah
Melampiaskan kegeraman
Tentang apa yang diucapkan REKTOR tadi di SENAT
“Masa’ rapat senat itu yang dibahas???”
Cuma, hanya, sebatas ITU
Lain lagi
“Kalau si kumis kalah, kalian semua E,”
Sang DOSEN mengaum
Tentu saja bukan di kebun binatang
Kening mereka berkerenyit…
Tapi hanya berkerenyit
Tak ada yang berani bilang
“BAPAK tidak bisa PAKSA kami!!!”
Tak ada yang BERANI lantang…
Disuruh pakai baju merah, oke
Baju mana juga boleh, PAK….
Sikumis? itu gampang
Kami sudah tak peduli
TERSERAH…
Kalau dijamin A
Hehehe…
Tak ada itu ruang bebas ‘politik’
Sarangintelek???
Sudah kubabas
Dengan kipas
Wahahaha….
Uang…
Beli--- ayo beli semuanya…
Chassss…..
Dinodai langsung oleh sang REKTOR dan JAJARANNYA
20:46 WIB
Menjelang pesta, 29 Juni 2010