Tampilkan postingan dengan label Catatan Ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Ringan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2013

4 bulan...

Bismillah..
Selalu.. dengan menyebut nama-MU ya Rabb..
Agar semua yang teruntai dalam tulis ini mengandung kebaikan.. karena semua kebaikan dari-MU dan semua keburukan adalah dari syetan.

"Lindungi hamba dan keluarga agar senantiasa lurus meniti jalan-MU ya Rabb.. hingga kelak ENGKAU izinkan kami 'menatap'MU, berbaris panjang di barisan kekasih-MU.. Rasulullah, dan ENGKAU sudikan kami beriring dengan pencinta-MU memasuki tempat abadi terindah.. syurga" Amiin.

Jumat
10:37 PM
(Sembari mendownload data untuk buku Dompet Dhuafa di gempa dahsyat Sumbar 2009 yang akan diterbitkan bulan Mei nanti... Uph.. mudahkanlah ya Allah) -ini buku perdana yang benar-benar akan kususun. Terimakasih Luvly Job.. Dompet Dhuafa..

Dilema semakin meraksasa. Fathul Islam Definda, sudah 4 bulan lebih 4 hari usianya. Sudah bisa menelungkup. Celoteh tak jelasnya makin banyak :) hobi mandinya juga masih tak berubah. Dari umur sehari, sudah suka sangat dengan air.

Ritual mandi bak agenda yang paling ditunggu. Entah apa yang menarik? sensasi berendam di air hangatkah? atau bunyi kecipak air yang berasal dari kaki yang tak bisa diam? atau... sentuhan bunda atau ayah ketika memberi sabun/shampo?

Akhir-akhir ini, lebih sering ayah yang memandikan Fathul. Bunda semakin sibuk... Siapin sarapan pagi, nyuci baju yang tinggi tumpukknya aduhai, bersihin ini itu. Hmmm... bunda saja yang masih belum bisa mengatur waktu-waktunya dengan baik.

Oya, baru kemarin dapet cerita kalau ternyata setiap bayi HARUS melewati setiap step pertumbuhannya, jika tidak maka akan terjadi hal tak beres pada pertumbuhan yang akan datang.

Jadi harus miring dulu baru nelungkup, harus merangkak dulu baru duduk, dan seterusnya...

Mmm... satu lagi tingkah lucunya, kalo lagi ngisi bensin, tiba-tiba berenti. Menatap bundanya. Tersenyum-senyum dan berceloteh. Eh, baru akan ngisi bensin lagi kalo sudah dicium :)

Anak kecil, ada-ada saja :) oya, kalo lagi ngisi bensin anak itu, caranya posisikan dengan baik dan benar, berikan sentuhan saat dia sedang 'ngisi bensin' belai kepala, punggung atau lainnya. Tatap selalu matanya. Dan mulai komunikasi. Hal ini akan menambah kedekatan hati. Dan satu hal lagi yang paling penting adalah senantiasa menjaga kondisi hati ketika berdekatan dengannya.

Ingat! kita sedang melakukan pendidikan kepada buah hati. :)

ruang tengah,
ngantuk
wasalam

Minggu, 27 Januari 2013

Aku dan Kebersamaan Dengannya...

(Sebuah surat yang terlayang untuk Kakak, sekaligus Amak, sekaligus Sahabat Juang)

Aslmkum wr.wb

Apa kabar kak? Juga divisi kita. Sungguh ada rindu untuk kembali berkumpul dengan tim di kantor. Cuma memiliki anak ternyata jauh lebih membuat ingin dan sebenarnya memang harus betah di rumah kak (tak sefleksibel yang dulu pernah winda pikirkan).

Sekarang winda masih di Solok, sebelum Fera Zora nelpon tadi pagi memang sudah berpikir untuk senin depan masuk agak2 dua-tiga jam, belajar meninggalkan Fathul. Winda pikir, pasti kakak sangat kelabakan kini. Amat sangat. Berkurangnya tim...

Kak.. kalau dipikir-pikir, sebenarnya mungkin bagi sebagian orangtua biasa saja meninggalkan anaknya untuk pergi kemana-mana. Atau mungkin tetap ada berat tapi ditinggalkan juga. Mungkin itulah nanti yang juga terjadi dengan winda ketika sudah masuk kerja kak. Sudah winda timbang. Besok itu kalau kerja winda berangkat dari rumah pkl 7, sampe rumah lagi pkl 6. Nyampe di rumah tentu sudah lumayan letih dan seberapa banyaklah waktu winda bersama Fathul, walaupun sebenarnya ada yang mengatakan, kebersamaan itu biar sedikit tapi berkualitas.

Tentu winda harus sangat belajar bagaimana menjadi kebersamaan sedikit dan berkualitas itu kak.  Belum lagi rencana winda untuk insyaallah melanjutkan S2 kisaran pertengahan tahun ini (klo berjodoh). Jadi waktu sabtu dan minggu winda untuk Fathul yang full itu hanya sampai pertengahan tahun  ini. Maksimalisasi dua tahun ini, benar2 menjadi masa luar biasa mungkin bagi winda. Ibu, Amil DDS, dan mungkin kampus.

Kak.. Sungguh waktu cuti seperti ini akan sulit kami dapatkan lagi. Bahkan rencana nanti, winda mau masuk setengah 8 dan mau mengajukan penambahan istirahat siang setengah jam untuk pulang ke rumah (sekedar untuk bertemu, ngisi bensin Fathul siang, dan menciuminya kak.. T_T) dan kemudian pulang ke kantor lagi sampai kemudian pukul 5 berlalu.

Kak... sering winda mengunjungi Grup di FB, menangkap. Subhanallah... semakin tinggi target yang diembankan kepada tim kita. Ini hal yang luar biasa karena tentu akan lebih banyak pula kuantitas mereka yang membutuhkan yang akan kita bantu. Insyaallah tanggal 13 nanti, Winda akan berjibaku bersama, dan kamu sayang (Fathul) bantu bunda untuk maksimal menjalankan amanah bunda sebagai amil. Jangan rewel, sehat-sehat saja, dan tentu senyummu itu akan meluruhkan segala keletihan Bunda.

Ingin sekali bersamanya sepanjang waktu kak. Seperti yang pernah kak bilang, kalau kakak nanti setelah menikah ingin di rumah saja. Sama, begitu juga dengan winda. Cuma, kondisi itu masih belum memungkinkan untuk keluarga kecil kami kak. Rencana S2 itu juga bukanlah rencana gagah2an demi gelar. Cuma ingin mensave kan keluarga untuk kemudian juga mensave kan ummat (Amiin ya Rabb...)

Kak... Mohon maaf jika permintaan masuk kantor kembali belum bisa winda penuhi. Kakak terbayang kan, waktu cuti inilah winda bisa lebih untuk fathul. Sangat berat sebenarnya untuk menolak ini... Cuma...Winda mohonkan hak winda kak T_T hak winda memaksimalisasi waktu bersama anak...

Tapi.. untuk membuat berita, Mulai hari ini juga insyaallah winda bisa bantu kak. Atau hal2 yang bisa winda kerjakan sambilan di rumah... Insyaallah...

Segera kabari Winda ya kak

Mohon Maaf
Salam Hangat untuk Tim FR

Jumat, 25 Januari 2013

Menulis dan Kita.. (Bunda, Fathul dan Ayah)

Bismillah...
Ba’da tahmid wa shalawat
Jumat, 25 Januari 2013
21:44 WIB

Waktu menulis kini selalu seiring dengan waktu tidurmu, Nak..
Hhh.. Tak sabar rasanya menunggumu juga larut dengan kegemaran ini J Ayah bundamu seakan hampa kalau tak melakukan hal satu ini.

Enam bulan sudah si Ayah banting stir buka bengkel motor, mencoba melupakan rasa liputan dan menulis. “Tak rindu, Abang?”  kataku suatu ketika.

Dengan cepat dia menjawab, “Ndak ah...” seakan ingin sangat membuktikan bahwa dia begitu enjoy dengan dunia perbengkelannya. Dan.... Ba’da kehadiranmu, Si Ayah tak sanggup lagi menutupi rasa rindunya hingga suatu pagi di tengah sarapan.

“Kalau Ayah jadi wartawan lagi gimana, Bund...”

Suap kesekian kali itu pun tertunda. “Ha...” sahutku tak percaya.

Sebenarnya aku berteriak girang bukan kepalang, benar kan... kau pasti akan rindu dengan dunia yang mempertemukan kita itu. Hanya saja, sadarkah sayang.. kita sudah jumpalitan waktu buka usaha bengkel kemarin. Tabungan dikuras habis demi modal, kontrakan kedai yang juga tak terbilang murah itu jugabaru saja kita lunasi beberapa hari lalu. Dan sekarang??? teganya.
Hhhh... Aku diam. Sekedar memberi ruang antara girang dan.. Ah, entahlah.. Bingung jadinya ketika itu. 
Sampai kutemukan pelabuhan gundah menanggapi sepatah kata dari Si Ayah pagi tadi.

Kesimpulan akhirnya ditarik pada suatu kata, Passion. Itulah kekuatan yang akan membuatnya menjadi ahli di bidangnya.

Sementara itu, dia buka kembali buku-buku usang pedoman wartawannya. Dengan wajah sayu. Sungguh tak tega melihatnya.

Malam, menjelang tidur barulah kuutarakan persetujuan. Tak ada cerita pindah profesi lagi. Barang bengkel semua diopor ke bengkel bapak di kampung. Untung saja ada yang bisa nampung. Kalau tidak, tentu ada rugi juga atas barang-barang bengkel itu.

Dan.. kembali padamu, Nak. Semasa mengandung, bundamu ini menulis saja kerjanya di kantor. Semoga menular juga padamu.. Tapi, kami tak kan pernah memaksakan kau ingin jadi apa. Itu sudah ada sepakat. Kemana bakatmu, kita akan sama-sama memupuknya. Sampai ahli ada padamu.

Kami orang tua yang demokrat sayang. Oh... bukan.. bukan.. bukan partai itu maksud Bunda. Yang jelas, Nak.. jadi apapun. Kau tetap harus menyandang gelar takwa... Bagaimana selalu dalam doa-doa bunda.. “Ya Allah jadikan Fathul  Islam kebanggaan kami dunia akhirat, karena ketakwaannya padaMU, karena akhlaknya yang mulia, karena kecerdasan, kekokohan, dan kebijaksanaannya sebagai sebenarnya lelaki,”
Amiin..

22:21 WIB
Buru2 membersamai lelapnya

Kamis, 24 Januari 2013

Tentang ‘Rumah’ (kita menyebutnya rumah) dan Seseorang

Masih ingat lagu yang liriknya “matamu stereo.. lihat ke kanan ke kiri,” haha.. (lagu siapa tu yak??) kalau aku??? Sungguh ketika inget lagu itu, langsung inget seseorang. Yang beliau dengan stresnya ngedit berita, tasasak menjelang cetak, sambil tereak.. tereak “Matamu stereo!!!” haha.. Sungguh suka senyum2 sendiri saat mengingatnya, kadang malah lebih dari senyum ketika dengan tak sengaja keluar “matamu stereo”.. ketawa.. si abang bingung, “kenapa nih sang istri” haghag

Hhh... inget rumah, inget banyak hal. Serasa ingin kembali merasai takut2 menjelang kelulusan setiap step seleksi, tambah lagi dengan tingkah senior yang aduhai. Ingin menikmati gairah membaca, belajar jurnalistik yang begitu menggebu. Bertabur diskusi-diskusi hangat khas mahasiswa yang hangat.

Ingin kembali berlari kencang dari ‘rumah’ menuju wisma 5 menit sebelum pukul 21.00 ditabuh. Karena sungguh akan lebih sedap lagi ketika harus dilempar sapu lidi dari atas, dan menyapu di malam yang merambat pekat. Bukan hal menarik membayangkan, akhwat-akhwat wisma dan tetangga yang akan menemukan wajahku manyun dengan sapu, menyapu kosong dengan sapu lidi karena sebenarnya memang tak ada sampah yang patut di sapu di teras rumah berlantai tiga itu.

Sampai kini, mengingatnya... aku tetap mengatakan hal yang sama. Seperti yang aku lontarkan kepada semua keluarga ‘rumah’ saat mubes internal di Fakultas Ilmu Pendidikan waktu itu, “’Rumah’ memberikan warna yang berbeda dalam perjalanan hidup saya” :’)

Kamis 24 Januari 2012, 23:00 WIB, ba’da ngisi bensin jagoan
Bismillah...

Kemudian menggelitikku untuk menceritakan seseorang di antara mereka.. ba’da mendengar suaranya di ujung sana. Makassar. Suara itu lembut. Dulu dia ‘agak’ pemarah. Hehe. Tapi rasanya aku belum pernah kena dengan amrahnya. Atau aku tak ingat ya??? Haha... Bagaimana tidak, kepenurutan dan wajah menghibaku tentu saja membuatnya tak tega untuk marah (benarkah???)

Entahlah.. usai mendengar suara itu, aku berpikir memang sudah banyak yang berbeda. Entahlah,,, ada ruh di sana. Akhlak yang tebakanku lebih menawan, atau mungkin juga pancaran keimanan yang semakin kuat. Dan anehnya.. aku juga merasakan keterikatan. Kerinduan yang sama seperti aku rasakan kepada dua lagi orang ‘rumah’ lainnya. Benarkah tali iman yang menjadi penyebabnya. Lagi-lagi entahlah.. aku tak tau pastinya.. yang jelas, ada rinduku untuk sosoknya..

Dan.. tiba-tiba aku teringat ucapnya dulu, lontaran keinginan ingin menutup aurat sesempurnanya. Hmm... aku kembali tersenyum mengingat jilbab langsung hitam menutup dada yang sering dia kenakan.

Kak... Aku rindu..

Dalam doa... Semoga Allah juga memperkenankan kita kembali bertemu dalam kualitas iman yang lebih lagi, juga berkenan mempertemukan kita di tempat tertinggi, terindah...  kelak...
23:21 WIB

Minggu, 01 Juli 2012

Tentang Mendahulukan Orang lain


Bismillah..
Selalu dengan menyebut nama-MU ya Allah
Agar senantiasa mengalir pengampunanmu atas bait kata yang hamba lalai menatanya

Di sebuah tempat... dengan teman seorang Tornado Fan... berbeda sangat dengan kipas di rumah yang harus kami congkel2 dulu baru mau berputar. Kencang sangat.

21:50 WIB
Waiting for my Imam... Semoga nanti yang di dalem ini rajin kajian juga kek ayah :)

Mmm... hari ini rasanya saya mau sedikit berbicara tentang mendahulukan kepentingan orang lain, tentu saja berlaku kalau mendahulukan orang lain itu tidak akan mencelakakan kita. Mmhh... kenapa ketika menulis kalimat barusan tadi saya jadi teringat kisah 3 sahabat yang kemudian meninggal karena sedang sekarat akibat perang. Ketiganya sama-sama kehausan, namun air yang ada Cuma cukup untuk satu orang. Ketiganya saling mendahulukan, tolak-tolakan. “Kamu saja yang minum,” begitulah mungkin kata2 sama mereka sampai akhirnya mereka meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan... Sejarah mencatatnya sebagai kuatnya rasa cinta mereka, sehingga sampai hal yang berkaitan nyawa pun mereka rela memperuntukkannya untuk sang saudara.

Apa gerangan yang membuat mereka serupa itu? Air itu sumber kehidupan mereka, sedangkan porsinya hanya cukup untuk satu orang... Oh... shirah ini membicarakan tentang cinta. Kecintaan pada saudara karena Allah. Ya.. karena Allah.. Mereka sama-sama berperang di jalan Allah dan menghembuskan nafasnya dengan senyum cinta kepuasan karena sudah berhasil itsar. Mendahulukan saudaranya. Bukankah dalam sebuah hadits dikatakan, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”?

Terkadang, untuk hal-hal kecil yang tidak berkaitan dengan nyawa, bahkan tidak mengancam apapun dari kita.. kita masih sulit untuk mengulurkan tangan lebih segera. Merespon cepat sebuah permintaan bantuan. Meminjamkan barang sebentar sebuah barang yang mungkin saat itu sangat diperlukannya. Atau juga memberi sedikit uang, mungkin justru menjadi penyambung hidup bagi mereka.

Ah... Padahal.. Padahal mencintai saudara adalah salah satu bagian dari kesempurnaan iman. Mendahulukan kepentingan saudara sama halnya... Sahabat, maafkan saya yang mungkin tak cepat merespon jika kalian butuh pertolongan. Maafkan saya jika abai saat kalian mengeluh. Saya masih belajar dan ajarkan saya. Ajarkan saya mencintai kalian sebagaimana saya mencintai diri saya sendiri, cinta yang datang karena kesamaan iman. Keserupaan visi, bahwa kita hidup untuk kembali. Bahwa kebaikan adalah segalanya.. yang akan menjadi bekal dalam melanjutkan perjalanan usai etape ini..

Salah seorang tokoh dari agama sebelah pun juga pernah mengatakan, untuk apa hidup kita ini kalau tidak untuk bermanfaat bagi orang lain? Sebuah ungkapan pertanyaan yang merupakan pernyataan.

Rasulullah pun dengan gamblang mengatakan manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Tentu yang dimiliki oleh jiwa yang luwes, bisa duduk di permadani sekaligus tak janggal duduk di jerami. Merunduk ketika tambah tinggi. Dan tak meringis ketika si kumal meminta bantuannya untuk melakukan sesuatu. Rasulullah saja yang sempat bermuka masam pada saudaranya ditegur oleh Allah, lantas kepada kita??? Sudah berapa teguran yang kemudian harus Allah tudingkan kepada kita karena sikap kurang baik terhadap saudara. Sikap acuh kepada mereka yang membutuhkan.

Astagfirullah..

Maafkan saya para sahabat. Yang sering lalai dalam menunaikan hak-hak ukhuwah sahabat...

Tulisan saya untuk instropeksi diri saya yang begitu penuh kekurangan dan cacat dimana-mana. Jika kurang berkenan maafkan. Bagi yang dengan paksa saya tandai.

Sabtu, 21 Januari 2012

Dengan Memohon Penjagaan-NYA.. Bangkitlah..


Bismillah..

Dengan Menyebut Nama-MU ya Allah…

Ba’da Tahmid dan shalawat

Menikmati air yang menitik-nitik dan kemudian sejuk yang diresapkannya melalui celah-celah hati..

Allah… Allah.. Selalu beradakan kami dalam penjagaan-MU

Penjagaan yang begitu mahal harganya, sampai kemudian ketika berpaling sedikit saja maka luluh lantahlah kita oleh salah. Benar.. makin tinggi, angin akan lebih kencang.. lebih dingin, menusuk-nusuk tulang, membekukan darah, suatu ketika pula dia akan mengayun begitu perlahan. Sehingga sehabis bertahan kuat dia berubah menjadi melenakan dan kemudian menghempas...

Namun jika telah terjatuh, jangan takut untuk bangkit.. jangan sembunyikan wajah di balik malu.. Karena Allah selalu memberi harap.. meski gulir-gulir caci terus mengalir dan terasa sedikit memerihkan… belajarlah, belajarlah dari mereka yang mampu bangkit setelah salah..

Kaab bin Malik yang dengan menahan terkucilkannya dari kaum muslimin selama 40 hari 40 malam karena kelalainnya tertinggal dari pasukan perang Rasulullah.. karena kesabarannya dan kesungguhannya memohon ampun kepada Allah.. dia tercatat dalam sejarah… Ampunan atas kesalahannya langsung diturunkan dari langit kawan… Betapa indah sebenarnya kisah-kisah taubat yang kemudian mendapat uluran tulus dari-NYA.. yang kemudian menjadi penguat luar biasa bagi sang pendosa untuk kemudian lebih merapat padaNYA..

Hmm… Jika tiap kesalahan kita dipertimbangkan, Sungguh di dunia ini tak ada lagi orang yang layak memberi nasehat. Tapi adalah kesalahan juga jika dalam ukhuwah tak ada saling menasehati hanya karena kita berselimut segan kepada saudara.. atau mungkin berselimut marah atas salahnya.. sehingga hanya mampu menyuarakan kesalahannya pada saudara yang lain lagi dan yang lain lagi dan seterusnya..

Di jalan cinta para pejuang nasehat adalah ketulusan kawan sejati, sahabat akrab bagi nurani demi menjaga cinta dalam ridhaNYA. Nasehatilah.. Maka akan lebih cepat dia kembali dalam sadar.. maka akan lebih merekah ukhuwah itu karena ketulusan dan cinta.. karena ingin kita akan kebaikannya..

Catatan inspirator dari seorang sahabat

“Jadikan cinta ini padaMU ya Allah berhenti di titik ketaatan.. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Karena aku tahu, menaatimu dalam hal yang berat adalah kepayahan, perjuangan dan gelimang pahala. Karena seringkali ketidaksukaanku hanyalah bagian dari ketidaktahuanku, atau kelalaianku.”

Pagi yang jernih, Rumah Ukhuwah KAMMI Al Fath UNP

Dalam hening.. Minggu 18 Desember 2011 (23 tahun lebih sebulan—waktu saya semakin berkurang :’)

Syukran terkhusus pada Ust. Salim A Filllah