Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Perpustakaan ajaib

Senin, 6 Juni 2011

Bismillah…

Selalu dengan menyebut nama-MU ya Allah.

Pagi yang bersemangat. Ya, saya sudah banyak rencana hari ini, kepuasan tersendiri jika kesemuanya mampu terlaksana. Semoga begitu juga senantiasa orang yang telah menyempatkan mata menelusuri huruf-huruf yang ada dalam blog saya n_n

Begini, saya baru saja menuntaskan novel berjudul Perpustakaan Ajaib Bibby Bokken karya Jostein Gaarder, penulis buku best seller Dunia Shophie. Bukunya kali ini bercerita tentang orang-orang yang mencintai buku. Usai membacanya, adrenalin membaca saya menjadi sangat terpicu. Saya juga kemudian menyadari kenapa saya merasa bahagia setelah berputar-putar di perpustakaan atau toko buku, meski hanya untuk membaca punggungnya. Di sana dikatakan kalau saya ternyata termasuk dalam orang-orang yang mencintai buku (maksa.com)

Tokoh utama novel ini adalah dua anak kecil berusia belasan tahun bernama Nils dan Berit. Memiliki keberanian, suka menulis, setelah menjalani libur bersama mereka akhirnya memutuskan untuk membuat buku surat yang mereka tulis bersama, buku yang kemudian mereka kirimkan dari kota yang berbeda tempat mereka tinggal masing-masing. Di dalamnya mereka akan saling berbalas cerita terkait apa yang mereka alami dan yang menjadi titik pentingnya adalah perihal penyidikan mereka terhadap seorang perempuan tua bernama Bibby Bokken. Dan ternyata mereka sengaja difokuskan untuk membuat sebuah buku yang akan lounching ketika tahun buku berlangsung di Norwegia, satu tahun yang akan datang. Alur cerita yang mereka buat di surat sengaja di sett oleh Bibby Bokken dan kawan-kawan. Pencinta buku dan bibliographer terkemuka.

Ah, ternyata kemampuan saya menceritakannya secara detail tak begitu baik. Baca sendiri. Mudah-mudahan bisa menemukan sense yang saya dapatkan, atau malah lebih.

Berikut kutipan yang menurut saya bernyawa

“pada dasarnya, suatu kebohongan sangat mudah dikenali. Sedangkan mengatakan kebenaran tidak selalu mudah karena sering kali ia memiliki banyak sisi. Karena itu, kebenaran tidak bisa diungkapkan segampang membalik telapak tangan.” (228)

“seberapa banyak aku membaca seumur hidupku, aku tak akan pernah mampu membaca sepermiliar dari seluruh kalimat yang tertuliskan. Sebab, di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang di langit sana. Dan, kalimat-kalimat akan selalu bertambah dan akan menjadi semakin banyak sepanjang waktu laksana sebuah ruang yang tak pernah berujung.” (229)

Wassalam

Jumat, 28 Mei 2010

Kekuatan Deskripsi dalam Bumi Cinta


Finishing
27 Mei 2010

19:54 WIB

Aku tersenyum ketika membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselku beberapa waktu lalu (saat membaca novel terbaru Habiburrahman El Shirazy). Sudah nambah referensi bacaanmu ukh, apakah.... sudah mulai...

Pikiran ukhti yang satu ini memang kuat dengan signal-signal pubertas (wkwkw... peace). Kukatakan kalu memang lagi sering baca novel sekarang. Buat dipinjamkan ke anak-anak. Bulan ini saja sudah beli 4 Novel. Novel-novel remaja, dan yang kupikir bagus untuk mereka. Negeri 5 Menara, lalu karya Andrea Hirata, kemudian novel-novel anak sekolahan FLP. Hasilnya lumayan, mereka jadi banyak bertanya padaku perihal cerita-cerita dalam novel itu. Dan... aku mulai leluasa mengenalkan ‘dunia kita’ pada mereka. Sebelum meminjamkan ke mereka tentu harus menamatkannya dulu.

Sejurus, pulang sekolah, mantap kami melangkah ke penjual buku langganan. Buku Habiburrahman El Shirazy berada di tumpukan buku-buku terbaru. “Boleh lihat, Kak?”. Yang kupanggil kakak tersenyum sembari cekatan mengeluarkan buku berdominasi putih itu.

“Bagus tu ukh,” ujar Resi.

Sekilas aku berpikir, romantika kisah cinta lagi paling. Kulihat di kulit belakangnya. Baca. Aku mengangkat alis ke Resi, “Beli aja. Lumayan berat kok,” katanya asal.

“Berat apa,” sahutku.

“Anti kan sukanya gitu. Yang ini beda dari novel-novel sebelumnya. Ada melibatkan Yahudi-Yahudi juga,” jelasnya.

“Anti sudah baca?” Tanyaku.

“Sudah beli, baru baca sedikit,” cengirnya.

Dan sekarang memenuhi permintaan untuk dibuatkan resensinya. Bukan resensi sebenarnya, hanya tanggapan pembaca awam saja.
24 Mei 2010

Pukul 22:15 WIB, aku menuntaskan bacaan itu. Target ke-9 yang tercantum dalam draf yang kutempel di layar monitor komputer tuaku sudah dibulati dengan spidol merah.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, orang Islam yang membacanya akan bertambah keimanannya, orang luar Islam maka akan berpikir ulang tentang kebenaran agama yang dianutnya. Dan agama manakah yang merupakan agama paling sempurna di muka bumi ini. Yang di dalamnya berisi petunjuk keselamatan bagi seluruh umat manusia di jagat raya.

Di sini juga dapat ditemukan kelemahan seorang laki-laki, setiap laki-laki malah. Perempuan merupakan godaan paling besar dalam perjuangannya menjalani kehidupan ini. Lagi-lagi Habiburrahman El Shirazy menciptakan sosok laki-laki luar biasa, Ayyas, Muhammad Ayyas.

Habiburrahman mengambil setting, Moskwa, ibu kota Rusia. Dari kekuatan deskripsinya pembaca mampu benar-benar membayangkan kota penuh kebebasan itu. Habiburrahman mempertontonkan kelihaiannya dalam deskripsi serta keluasan wawasannya. Entah sudah berapa banyak referensi yang dibacanya untuk membuat novel ini. Dalam pengantarnya dia sedikit menyinggung kenapa memilih Rusia sebagai setting tempat. Sepanjang riset yang telah dilakukannya Rusia merupakan negara paling bebas sedunia, dibanding Amerika sekalipun. Penduduknya adalah penganut free sex radikal. Negeri yang menuhankan kebebasan, free sex, pornografi, dan pornoaksi.

Di sinilah tokoh Ayyas diuji keimanannya. Sebenarnya dia pun sudah begitu mendengar berita tentang nonik-nonik Rusia yang begitu mempesona. Dia selalu mengingat pesan Kiai Lukman Hakim, saat mengaji di pesantren dulu. “Ingatlah Nak, kecantikan wanita itu yang menjadi sebab para santri dan satria agung batal bertapanya,”. Dan dia sama sekali tidak bercita-cita untuk batal penelitiannya apalagi batal imannya, yang selama ini begitu dia jaga.

Amalan-amalan harian dan ingatannya selalu kepada Sang Khaliklah yang membuat Ayyas menjaga keimanannya meski terseok-seok, begitu sulitnya. Jelas di sini pembaca bisa melihat, seorang laki-laki tanpa dibekali dengan keluhuran nilai-nilai Islam maka mereka akan mudah sekali tergelincir, oleh wanita.

Ayyas sempat kemudian berkata dalam lirih doanya, “Hanya wanita itulah (wanita satu-satunya yang hak baginya) yang ingin aku genggam erat tangannya ketika memasuki syurga nanti.”  so sweat...” (wkwkwkw) afwan karena sudah larut aku berkali-kali membuka bagian ini namun tak jua ketemu.. tak diizinkan untuk berbanyak-banyak membahasnya hehe..

Namun bagian itu cukup memotivasiku menambahkan beberapa kata lagi di poin ke-16 dalam draf 100 mimpi yang tertempel di dinding kamar.

Sebenarnya runut ceritanya seperti ini saja...
Ayyas seorang pemuda Indonesia yang sedang menuntaskan S2nya di India harus melakukan riset ke Rusia atas perintah pembimbing tesisnya, Prof. Najmuddin Ashgar. Riset tentang sejarah Islam di Rusia fokus ke Kehidupan Umat Islam Rusia di Masa pemerintahan Stalin.
Sampai di Rusia dia disambut Devid, teman SMPnya dulu. Devid sudah benar-benar jauh dari nilai-nilai Islam, hidupnya sudah begitu bebas, minum-minuman keras, seks bebas. Tuhan? Dia sudah tak percaya lagi tuhan. Sekarang, dia masih berstatus sebagai mahasiswa di universitas St. Petersburg.

Dengan berbagai alasan dan pertimbangan Devid menempatkan Ayyas serumah dengan dua gadis Rusia yang jelita Yelena dan Linor. Tempat inilah yang menurutnya paling aman untuk Ayyas. Mulanya Ayyas sangat marah, namun setelah mendengar penjelasan dari Devid, Ayyas setuju. Yelena yang ternyata pelacur kelas atas Rusia, lalu Linor seorang yang dikenal ayyas sebagai perempuan yang bekerja sebagai pemain biola profesional dan wartawan sebuah media di Rusia. Di balik itu, ternyata Linor memiliki banyak misteri, dia seorang agen Mosad Zionis.

Masalah keyakinan, Yelena tidak mempercayai tuhan, sedangkan Linor adalah seorang Yahudi tulen yang jelas-jelas sangat membenci orang Islam. Ayyas melalui banyak ujian dari wanita-wanita ini. Terutama Linor.

Lanjut ketika dia mendatangi Prof. Abramov Tomskii, Guru Besar Sejarah Asia Tengah, ternyata beliau ditugaskan oleh rektor untuk ke Irlandia. Walhasil, Ayyas dititipkan kepada seorang Doktor sejarah yang cantik bernama Anastasia Palazzo, yang nantinya akan jatuh hati pada si Ayyas.

Beberapa tragedi terjadi, pertengkaran Ayyas dengan Sergei (kekasih Linor), Linor yang kemudian membuang mayat Sergei. Musibah yang dialami Yelena membuat telinga kirinya harus diamputasi, di masa sekaratnya dia akhirnya memohon kepada tuhan untuk menyelamatkan nyawanya. Yelena mulai percaya tuhan dan tidak mau lagi bekerja sebagai pelacur. Namun tentu saja tidak mudah! Karena keselamatan Yelena akan benar-benar terancam jika tak ingin bekerja lagi.

Linor membantu Yelena untuk menyelesaikan masalahnya dengan mengadu 2 geng mafia di Rusia. Kemudian dia mulai merencanakan fitnah untuk Ayyas, tuduhan pengeboman. Yang sebenarnya juga merupakan misi Zionisnya untuk lagi-lagi memperburuk citra Islam di mata dunia.

Setelah beberapa misi, Linor ke Keiv mengunjungi ibunya, yang kemudian menceritakan asal usul Linor dan siapa Linor sebenarnya. Ternyata dia adalah anak seorang Dokter Palestina. Linor diserbu kebingungan. Untuk menghilangkan jejak (Linor ingin melepaskan diri dari jaringan Zionis), Linor mencari seseorang yang mirip dengannya, dibunuh dan kemudian membuat seolah-olah yang mati itu adalah Linor. Tak sulit bagi Linor untuk hal yang seperti ini. Dia sudah sangat biasa dengan konspirasi.

Linor berangkat ke Berlin untuk memperlajari Islam lebih jauh.
Ayyas menyelesaikan penelitiannya.
Devid sadar dari semua yang dia lakukan selama ini dan akhirnya menikah dengan Yelena yang juga sudah mengakui tuhan serta bersedia berislam sebelum menikah dengan Devid. Happy Ending.

Linor pun kembali ke Rusia dengan keislamannya, dan mengutarakan niatnya kepada Ayyas , menikah. Ayyas belum bisa memutuskan, namun beberapa menit setelah Linor pergi meninggalkannya, Ayyas setuju. Sayang Linor ditembak....

Lengkapnya... BACA SENDIRI!!

Bagian penting ketika Ayyas menjadi pembicara dalam beberapa acara, meyakinkan kekokohan Islam sebagai agama yang paling benar. Baik secara ilmiah, rasional, hati, fitrah. Dia menjabarkannya. Rahmatan lil ‘alamiin.

Kata-kata Ibnu Athaillah, “Jika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir apa yang harus dikerjakannya. Sedangkan orang yang berakal akan berpikir apa yang akan dilakukan Allah kepadanya”. Kata-kata yang begitu menginspirasi Ayyas dan juga kemudian sangat menginspirasiku.

Ada beberapa bagian juga yang menurutku agak mengganggu. Beberapa kejadian temponyabegitu cepat. Ending terkesan terlalu dipaksakan. Misal saja, cepatnya pikiran seorang Ayyas -yang biasanya penuh pertimbangan- memutuskan menikahi Linor. Linor yang sudah merasa mantap keislamannya, begitu saja membuka auratnya kembali dengan alasan keamanan (tidak bisa begitu diterima). Begitu juga dengan kejadian Devid dan Yelena yang akhirnya menikah...

Ada juga beberapa kalimat atau paragraf yang diulang-ulang. Kemudian konspirasi Linor terlalu sederhana, terlalu gampang berhasil.

Untuk deskripsi??? Subhanallah....

Akhirnya. Afwan Ala kadarnya... Berlanjut ke deadline selanjutnya. Syukran sudah memaksaku menyelesaikannya.

Jumat, 28 Mei 2010
11:25
Ruang berukuran 4X4 m. Nyaman. Meneduhkan.