Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Agustus 2010

Bismillah

11:22

Menunggu detik-detik berharga dalam hidupmu.

Baca dengan bahasa sastra (bukan bermaksud ‘kurang­­---’ dengan menyebut kata ‘kau’ untukmu ^^)

Kamar yang didominasi warna biru putih. Semarak sekali. Ada lumayan banyak bunga yang tadinya sempat membuatku berkerenyit. “Ramai kali ya, Dek?” tanyamu.

“Iya, sih..” jawabku.

“Ah, nanya kamu mah gak valid, bisa disuruh buang semua ni bunga,” candamu.

Aku tertawa kecil. Dalam keadaan biasa, mungkin tawaku akan sedikit lebih lagi. Aku mendapati sebuah gantungan lemari merah muda, benda sama kita, namun punyaku sudah entah kemana…

Hmm… aku tak tahu bagaimana perasaanku kini, tak begitu jelas. Entahlah… Rasanya akan ada yang hilang tapi di sisi lain justru ada yang bertambah.

Kau akan melangkah ke perjuangan yang lebih ekstra lagi. Ingatkah ketika sambil berkaca kita mengatakan, “Kebahagiaan begitu besar ketika orang yang kita cintai semakin dekat kepada Allah, semakin ekstra perjuangannya di jalan Allah.. pergilah…”

Masih segar teringat, aku yang pertama kau ‘seret-seret’ melangkah di jalan ini.. Ketika dengan kesal kumenukar jilbabku yang katamu transparan. “Cerewet,” gumamku tanpa suara ketika itu.

Dan..

pertama aku mengenakan jilbab sorong cokelat sangat muda, punyamu. Kau terkejut. Hari itu banjir air mata, banjir puisi, juga.. Hari pertama aku memutuskan untuk menggunakan jilbab lebar.

Ah, Ayuk… (sebenarnya aku ingin menangis tapi.. )

Ingin rasanya kutarik-tarik yang dulu-dulu itu. Lomba cipta puisi di banyak sore, di tepi pantai Gajah… ketika puisi kita berdua dibedah di forum dan puisiku yang dibilang bagus (hehe... peace ^^) kau ‘mangambok’. Namun sejak itu justru kau menyetujuiku yang mengatakan kalau kau lebih bakat di cerpen.

“Tapi aku tak suka saja dibanding-bandingkan dengan puisimu,” ujarmu ketus tapi lucu. Aku nyengir.

Dan kau mengajariku banyak tentang pilihan ketika sudah mengenakan jilbab lebar, izzah seorang muslimah.

***

Lomba lari itu, yang kau selalu ungkit walau kau cuma menang sekali :P juga keberhasilanmu membantingku setelah mengecoh mengatakan, “Sini Dek, ayuk coba,”

Bantingan yang lumayan keras setelah aku menginjak kota ini. Aku meringis. Kau tertawa begitu gembira. Meski sakit, entah terasa begitu menyenangkan. Sebagai pamungkas kukatakan, ”Hmm… Murid yang lumayan cepat tanggap,” dengan pose seorang guru yang begitu bijak ^^

Waaaaaaa………………………….. pagi yang masih gelap itu ribut dengan tawa-tawa kecil.

***

Hmm… Kau orang pertama yang menyium keningku. Aku hanya terbengong ketika itu. Ciuman sayang seorang kakak yang dari orang tua pun aku sama sekali tak pernah mendapatkannya. Ah, kau sedikit berhasil mengajariku tentang kelembutan. Mengajariku tak lagi memukul-mukul bantal kalau kesal. Mengajariku tak berteriak-teriak kalau berbicara ^^ “Kan harus tegas,” ujarku.

“Ya kan ndak mesti kayak orang orasi terus gitu,” kau protes.

Sampai al Quran warna perak yang kemudian kau berikan, “Untuk obat,” katamu. Yang kemudian kupahami memang ampuh sebagai obat apapun…

Dan pesanmu di suatu ketika, “Jaga diri baik-baik ya dek, minta punggung yang kuat jangan minta ringankan beban.”

Ah, terlalu banyak jika kukisahkan semua..

***

Hmm… Ternyata kesyahduan ukhuwah bercerita ketika visi itu mulai sama. Tak hanya sebuah kedekatan lahiriah, tawa atau canda. Ketika hati telah berhimpun dalam naungan cintaNYA. Menyeriusi hidup.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S Al Hadiid: 16).

Aku sangat ingin memandangimu, dari tempat yang tak kau tahu. Ingin kukucurkan buliran bening yang biasanya begitu sulit keluar. Aku ingin menangis. Tangis dengan aroma wangi ukhuwah.. kebahagian yang lagi-lagi tak tahu aku bagaimana definisinya, bagaimana mengukirkannya.. dan mulai bingung untuk menguntainya lewat kata.

***

Rasanya ingin sekali duduk di sebelah Apa, memberikan semacam hawa ketenangan dan menyedot semua energi yang membuatnya gugup sedemikian rupa. Pengalaman kali pertamanya memang. Sudah berapa kali pengulangan.

Aku bertatapan dengan Khairia yang juga bertugas sebagai fotografer. Kemudian reflek sama-sama meletakkan tangan kanan di dada, menghembuskan nafas berat dan.. “Pfuh… kok jadi kita yang gugup ya?!” Padahal ini bukan perdana menyaksikan akad nikah.

Sementara kau, aku tahu kau lebih berdebar lagi. Kuamati kau beberapa waktu. Matamu melihat ke kiri pada Ama, bibirmu mengatup membentuknya kemudian menjadi segaris tipis. Sementara Apa terlihat berjuang keras. Ah.. mungkin Apa lebih bisa memberikan batasan tentang perasaannya, sementara calon kakakku itu berkali juga memegang kain yang menggantung di lehernya. Dibenahi posisi duduknya setiap saat jeda.

15:10

Subhanallahi wabihamdihi khalqihi wa ridha nafsih wa dzinata ‘arsy wa midada kalimatih…

Adikku, entah apa nama perasaan ayuk detik ini. Perpindahan wali di bumi sudah terjadi 30 menit lalu. Ada haru, cemas, bahagia, sedih, lega, bercampur aduk di hati ini. Ketika para saksi mengucapkan ‘sah’ Subhanallah. Status baru dalam hidup. Istri. Amanah baru dalam kerja-kerja dunia yang Allah pikulkan. Harapan ayuk hanya satu. JannahNYA. Sebab Allah telah janjikan Syurga bagi istri-istri yang berbakti pada suami. Mohon doanya agar ayuk terhitung ke dalam orang-orang yang berbakti.

Setiap kita memiliki orang-orang istimewa dalam perjalanan kita ‘mengenal’ hidup. Ada banyak tarbiyah yang kita kecap dari setiap langkah, yang juga melibatkan orang-orang tertentu di dekat kita. Waktu yang terus berjalan membantu mengungkapkan satu per satu rahasiaNYA pada kita. Beruntunglah karena telah mengukir kenangan indah pada hati orang lain yang mungkin kau tak sadar telah melakukannya. Melakukan hal luar biasa bagi orang lain… teruslah menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain, dimanapun, kapanpun, dalam keadaan bagaimanapun…

Dan untukku, “Tidak ada nikmat kebaikan yang Allah berikan setelah Islam selain saudara yang shalih. Maka jika salah seorang kalian merasakan kecintaan dari saudaranya, peliharalah dan peganglah kuat-kuat persaudaraan dengannya… “(Umar bin Khattab)

Doa selalu untukmu. Tazkiyatun Nafs.

Kamis, 29 Juli 2010

Setelah membaca Pak Comblang Kang Ian dan SSD-nya Puch



Jadi sedikit teringat kejadian beberapa waktu lalu……. Beginilah kurang lebih reka ulangnya…

Nelangsa, begitulah kira-kira dia ketika mendengar berita yang sungguh tiba-tiba malam itu. Runtuh sudah sebuncah harapannya untuk berdampingan dengan seseorang yang minimal sudah mengerti bagaimana jalan hidup yang dia pilih. Dalam sebuah jamaah dakwah, menciptakan generasi Rabbani.

Bukan karena laki-laki itu tak tampan, tak kaya apalagi, memang sungguh bukan itu yang menjadi kriteria teratas yang sudah dipetakan dalam proposal hidupnya. Dia hanya menginginkan sesosok laki-laki tarbiyah dan mengerti ketika berbicara tentang perjuangan… dakwah… karena seperti bagaimana buku-buku yang dia baca… dia benar-benar ingin menjadi pendamping yang sangat ingin menguatkan kaki sosok itu di jalan dakwah. Menauladani bagaimana Khadijah atas Rasulullah…

Merajut cita-cita bersama dalam membangun peradaban islam di muka bumi ini.

Sungguh bukan karena dia tidak mengenyam pendidikan di kampus yang menjadi kendala di hatinya, bukan pula karena pekerjaannya yang hanya seorang petani. Ah, kenapa semua menjadi sebegitu rumit seperti ini? Dalam.. dia memijit kepalanya yang tak terasa sakit. Sengaja kakinya dipasungkan di tepi sungai ini, ia memilih untuk tak segera pulang sehabis mengajar hari ini, hanya ingin sendiri untuk beberapa saat.

Entah mengapa.. terlintas dibenaknya kalau kecimpungnya di dunia ‘ini’ akan segera berakhir. Segera, setelah laki-laki itu resmi menjadi walinya, dan itu taklah berapa lama lagi.

Tipenya yang pendiam ternyata memang menjadi bumerang. Teringat kembali ketika semester delapan kemarin sang ayah berkata, “Bagaimana Ra, sudah punya calon?”

“Calon apa, Yah…” ujarnya tersipu, kembali ditekurinya jahitan yang menuntut untuk segera diselesaikan. Pagi besok, ibu sudah akan memakainya, ke pesta pernikahan anak tetangga. Seusianya.

“Ayah maunya selesai wisuda nanti kamu langsung menikah saja, ndak baik berlama-lama. Sekarang kalau kau sudah punya pacar, calon maksud ayah. Baik kalau kau kenalkan kepada ayah,” ayah bertutur datar penuh wibawa.

“Hm..,” nafasnya menghela berat. “Saya tidak punya pacar, Yah,” katanya kemudian lantas mengalihkan pembicaraan.

Tak pernah dia menduga ternyata jawaban itulah yang menjadi sumber sang ayah memutuskan untuk menjodohkannya dengan salah satu kerabat dekat. Pulang ka bako. Sang ayah sangat tahu sekali bagaimana sang anak berinteraksi dengan laki-laki. Terakhir masa SMA dia melihat adanya interaksi sang anak dengan teman laki-laki. Empat tahun kuliah, tak pernah terdengar sedikit pun di telinga sang ayah kalau dia berpacaran dengan seseorang. Padahal di jaman sekarang sungguh sangat jarang mereka yang tidak memiliki pacar. Seperti gadis-gadis lain di desa itu. Sang ayah menyimpulkan sendiri, kalau sang anak tak sanggup mencari sendiri. Harus dicarikan!

Perjodohan itu tak pernah dia tolak, hanya kepada beberapa orang saja dia menceritakan kisah sepotong hatinya. Tak ada kemungkinan secercah jarum pun untuk menolak. Dia lebih memilih berdamai. Hanya ayat ini yang menjadi penguatnya "....dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)....)

Kamis, 27 Mei 2010

LANJUTAN... Diary PL...

Rabu (28 April 2010)
09:04

Ba’da dari X2 (ekspresi gembira banget nih...)
Bel telah berbunyi 3 X, sudah lewat sedikit dari 07.30, kepsek mondar-mandir (yang kupahami sebagai bahasa tubuh beliau untuk menyuruh guru-guru segera memasuki kelas). Kutatap X2 dari pintu ruang majelis guru, sejurus ke depan. Siswa-siswa putrii terlihat masih bergerombol, ngerumpi, di meja paling depan dekat pintu.
Pandangan mengitari sekolah, masih banyak siswa yang berada di luar kelas, duduk-duduk santai. Suara Kepsek tiba-tiba meluncur dari mikropon “Anak-anak untuk segera memasuki kelas... bla... bla...”
Kulangkahkan kaki mantap dengan sepatu yang dulu paling kubenci :’) sudah sangat bersahabat dia kini. Cuma butuh waktu memang.
Tidak ada persiapan hari ini. Semalam sudah larut, maklum lagi marak-maraknya ‘kasus’ jadi mulai agak lebih ekstra.
Menatap tumpukan lembar ujian anak-anak yang mesti diperiksa. Ho..ho... kubuka agenda PL, bertemu lagi dengan draf skor siswa yang menuntut untuk segera dianalisis sementara tubuh sudah terasa aneh. Kutatap Vermint, obat dengan botol orange itu, ia menjadi yang setia kalau badan sudah beraneh ria. Aku menggeleng, “ aku tak mau,” seakan berbicara pada diri sendiri.
Kutarik bantal dari tempat tidur. “Hm... kutinggalkan kau dulu,” senyumku getir.
Pagi, bsngun sudah adzan subuh. Kelabakan? Tentu saja. Lewat jam 6 berangkat dari rumah, telat otomatis. Allah... di angkot sibuk almatsurat, angkot dari pasar ke Tekab saja pahami lagi materi. Walaupun sebenarnya materi hari ini sudah di luar kepala tapii tetap perlu persiapan baru. O...o... Resi menawarkan pula materi menarik untuk didiskusikan sepanjang jalan. “Maafkan Ibu anak-anak,” di dalam hati.

POTRET GURU YANG CEROBOH!!

Kembali...
Kelas X2 seperti biasa, masih sedikit yang di lokal. “Assalamualaikum,” ala kadarnya dariku. Beberapa menjawab, banyak yang tidak.
Lewat di depan bangku barisan depan no 3 dari pintu terdengar celetukan, “Rajin ibu mah.”
Sontak bibirku mengatup (kehadiran yang tidak diharapkan :)). Ini memang hari pertama sekolah mereka, pasca beberapa agenda libur.
Yang lain berdatangan. Cuma Rinto dan Deny laki-laki tadi, tapi sekarang sudah lumayan banyak. Rinto pimpin doa. Loyo...... sekali. Semuanya. Seperti yang belum makan 3 hari. Selesai doa kusuruh mereka membaca asmaul husna. Lebih loyo lagi. Yola pimpin...
Di tengah-tegah yang seperti itu beruntung dikaruniai ide-ide yang agak sedikit membantu (selalu tiba di waktu-waktu mendesak).
Nilai mid mereka menjadi titik tolakku berbicara untuk motivasi. Lumayan sukses...
Lanjut kuhentak mereka dengan cerita-cerita Soekarno. Begitu ganasnya beliau ketika berpidato, “Singa Podium”.
Semua terpana...
Masuk
Materi tentang pidato
Cash... tepat sasaran! (Alhamdulillah ya Allah)
Kuulas pidato-pidato yang mereka dengar waktu perpisahan kelas 3 kemarin. Hidup... mata mereka berbinar antusias tak kuyu lagi, sesekali mereka mengangguk.
Selanjutnya...
Kuberi mereka beberapa menit untuk merancang konsep pidato singkat tentang perjuangan. Yang berani maju! Tambahan satu point untuk nilai mid mereka yang jeblok.
Semangat mengoret-oret konsep, memejamkan mata dengan mulut berkomat-kamit, mengetuk-ngetukkan pena ke kepala, memonyong-monyongkan bibir.
Sungguh... mereka begitu lucu :D
Meski begitu cuma dua orang putri yang berani maju. Nurul dan Yola.
Yola dibalik sifat cuek dan kerasnya, hmm.. dia memukau mengungkapkan kemirisannya kalau Indonesia selalu saja disebut negara berkembang. Kapankah indonesia menjadi negara maju? Sempat merinding. Diulaslah pidato mereka.
Bel berbunyi. Aku meminta mereka untuk menutup mata. Semua. Ada kado kecil yang akan aku berikan kepada salah satu dari mereka. Siswa terbaik, selama pemantauanku!
“Semua menjauh dari laci”.
Susah kumenyuruh agar para laki-laki itu menutup mata. Gaya intip-intip mereka. Hmm... “Tutup!” Ujarku. Mereka tersenyum-senyum. “Udah bu... udah bu...”.
“Sekarang.. silahkan periksa lacinya masing-masing bagi yang mendapatkan sesuatu jangan katakan siapa pun.”
“Pesan Ibu, berlombalah untuk menjadi yang terbaik.”
“Assalamualaikum...”
Tak pernah seserempak dan sesemangat itu mereka menjawab salamku :’D
Sukses untuk hari ini

Catatan
  1. Siapkan cerita menarik untuk mereka di tiap pertemuan
  2. Butuh kado-kado kecil untuk memotivasinya
  3. Ciptakan PBM yang riang tak tegang
  4. Berpersiapanlah! Matap melangkah ke kelas dengan perencanaan yang matang.
Insyaallah ke depannya...
Untukmu adik-adik.. tidak.... anak-anakku :)
Rinto Sukma, kuberikan catatan kecil berisi pesan untuknya plus sebuah buku mini berisi al-ma'tsurat, Juz 30, dan Hadits Arba'in. Anak yang santun, cerdas, responsif. Meski begitu dia tetap dekat, berteman dengan ‘berandal-berandal’ kelasnya.

LANJUTAN... Diary PL...

Baru bisa dipost sekarang, sudah sangat lama mendekam di dalam diary merah butut, yang sudah tak bisa dipegang sembarangan, karena dia akan dengan tanpa rasa bersalah berlarian kemana-kemana. Sudah payah benar hidupnya, terang saja... hanya ke satu tempat yang dia tidak kubawa...

Bersabarlah... :)

Selasa (27 April 2010)

10:08 WIB

Di sisi ini, aku benar-benar tidak merelakannya.

M... Ha..., hmm...

Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu. Rohis! Itu salah satu jalannya.

Dia anak baik, cerdas, responsif.

Aku sesak, buliran bening sudah menyesak di sudut-sudut mataku, hembusan nafas panjang pun belum bisa menentramkan.

Hari ini hari perpisahan kelas XII SMA ini, ah... banyak yang tak berguna. Aku sungguh sangat tak betah lagi berlama-lama di gedung ini. Kepala sudah berdenyut tak karuan. Pada dasarnya memang agak tidak suka keramaian yang memekakkan... Dia meliuk-liukkan tubuhnya, aku menunduk... menggigit bibir. Guru-gurunya malah bertepuk tangan, begitu pula teman-teman sebayanya. Sorak sorai meriuhkan ruangan berkapasitas 200 orang itu.

Entahlah...

Kali ini aku sangat ingin bercerita banyak hal dengannya.

Dia tak salah dengan segala kekurangannya itu, butuh sentuhan. Hati seorang guru, seorang yang mampu mengarahkan semua potensinya. Terlalu banyak mutiara di sinii tapi semuanya berbalur lumpur yang tebal, dalam dan mengeras. Begitu sulit mengeluarkan mereka... dan kutahu, kebanyakan guru di sini sudah menyerah..

Selasa, 18 Mei 2010

Kamar Eksekusi

Kamar ini adalah salah satu kamar di antara 16 Kamar yang ada. Di sini, tempat orang-orang menguras pikiran, sesekali menekan dada yang terasa sesak, menghela nafas panjang, menangis, dan lalu tersenyum bahagia, memahami kalau ini jalan mereka. Bersama. Yang telah dipilihkan-NYA khusus untuk mereka. Tiada, tak pernah dan tak akan pernah mereka sesali ketika mereka dituding tak adil, dikatakan otoriter, dikatakan keras, semua akan menanggapi dengan gaya yang berbeda.
“Kita memang harus menyiapkan satu folder khusus untuk kita dibenci orang,” tutur salah satu dari mereka.
Semua menunduk, dan lirih berkata, “ya,”.
Ini adalah tarbiyah dahsyat bagi mereka, ketika mata-mata lain asyik dengan tidurnya, fokus dengan tugas-tugas kuliahnya, atau malah bersantai ria diiringi nasyid-nasyid. Mereka justru berada di sini, merenda hati, mendewasakan hidup dan kemudian menyusunnya menjadi suatu yang begitu bermakna. Selalu bertahan, bahwa semua ini hanya mereka lakukan untuk-NYA.

Alhamdulillah,,,
Ketika hatimu penat. Akhwat, yakinlah engkau adalah pilihan ALLAH, pilihan-NYA untuk mengemban amanah yang tidak ringan dan tidak pula sembarang orang yang dikenakan telunjuk-NYA.
Di awal Detik kita berada di sini.... kita semua akan memulai kebahagiaan itu. Bersiaplah untuk melesat lebih cepat dari pejuang-pejuang ALLAH yang lain. Ketika mereka tertidur, matamu justru harus jalang menjaga mereka, ketika mereka lelah putus asa kau harus sedia membangkitkan kembali ghirahnya pun ketika itu kau merasa letih yang sangat. Kau akan membuat dia merasakan bahwa kau selalu sedia di sampingnya, selalu ada untuk sekedar pendengar atau turun menjamah dan menyelesaikan masalahnya. Semua berawal berat tapi lama-kelamaan antunna akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah kebahagiaan yang tiada terkira.

akhwat, bersiaplah.... antunna akan dikaruniai kesabaran yang jauh lebih jauh dari yang dulu antunna miliki. Ketika pulang dan mendapati kondisi yang amburadul, antunna mungkin hanya akan menghela nafas dan mencoba membereskan semuanya. Ketika anti baru datang dengan nafas tersengal-sengal dan jangan terkejut jika langsung ditarik ke sebuah kamar dan mendapatkan aduan pilu. Atau bahkan kecaman dan tuntutan. Itu biasa.... tetaplah bersabar.... karena ALLAH bersamamu, ALLAH mencintaimu...
teruslah resapi ketika antunna tersenyum ketika saudara-saudara sudah banyak yang membudayakan puasa sunnah. Fajar telah ramai dengan tahajud, dan lantunan lembut Al Quran.

akhwat.....
antunna adalah wanita pilihan .....

Ketika melihat masih ada saja saudara yang melakukan pelanggaran, tidak memakai kaus kaki, nonton film sia-sia, nyanyi-nyanyi jahiliah berserta berpuluh pelanggaran lainnya, sakitlah, sedihlah tapi janga n sakiti mereka. Sentuhlah saudara dengan perkataan yang lembut dan cara yang akhsan. Dan jangan sekali-kali menegur mereka dalam keadaan marah.

Jangan sekali-kali pula menetapkan sebuah keputusan ketika hati sedang bergejolak penuh emosi. Tetaplah bertahan dengan ketenangan dan kesabaran, seemosi apa pun orang yang sedang anti hadapi. Ingat!! Kau adalah wanita yang kuat, wanita hebat!!

Hari ini, sudah merangkak jauh dari detik awal itu, jika antunna toleh ke belakang antunna justru akan tersenyum, karena dia sudah begitu jauh... sementara di depan juga tak terlihat ujung dari perjalanan ini J tapi dengan izinNYA itu pasti. Kemenangan itu akan datang. Itu adalah janji. Janji-NYA!! HARAPAN ITU SELALU ADA!

Kamis, 18 Maret 2010

LANJUTAN... Diary PL...

Kamis, 4 Maret 2010

Hari pertama masuk without Bu Syahri. Kumantapkan. Sebenarnya memang tidak begitu berpersiapan. Karena sebelumnya memang belum ada kabar miring di X1 ini. Beda dan X3 yang sudah terkenal dengan bla..bla…bla-nya. Kulangkahkan kaki ke kelas sejurus runag TU, X1. Ketika aku masuk, kelas masih dalam keadaan semrawut. Meja, kursi, beberapa gumpalan kertas, dan oh ALLAH… Suara…
Kukatupkan mulutku, mencoba mempelajari suasana. Namun… Hmm… Mereka memang lumayan beringas. Memukul-mukul meja dengan kaki kursi yang mungkin juga sudah lebih dulu menjadi korban ‘keganasan’ mereka.
Sulit sekali untuk mendiamkannya. Padahal aku sudah mulai angkat suara. Ada banyak Dodi di sini, dan ketiganya itu  sama ‘unik’nya… Satu lagi Dodi Rahayu, lumayan diam sepertinya. Tapi, acuh…
Ho..ho.. Aulia, dia anak tinggal (sebutan bagi anak yang tak naik kelas)
Entahlah… Aku jadi tak kreatif sekali. Sesak. ALLAH… Mereka harus aku apakan lagi? Aku diam kembali, menatap mereka satu per satu.
Kondisi seperti itu, guru kelas sebelah datang. Hmm.. dengan semburan kata-kata yang membuat mereka lumayan diam. Tapi dia… Aulia.. Cari masalah saja dengan orang lain. Agus… dia sudah lumayan tenang. Tapi.. dua orang tidur. Kucoba tanya. Mereka… tidur lagi. SPEKTAKULER sekali..
Pasca X1, di Ruang Majelis Guru. Beberapa guru bertanya. Aku hanya tersenyum. Rupanya, Ibu yang masuk sejenak tadi sudah menceritakan pada guru-guru yang lain. Bu Ret mencoba memberikan motivasi. “Syukran Bu,” ujarku 
Tidak apa-apa…
Awal yang ‘terserah anda’ mau menilainya seperti apa…

Selasa, 9 Maret 2010

Full Class for this day
Ketika di X5, jam ke 5-6 (10:30-11:50) kukirim sms ke Ade, sepupuku. Kemarin sempat cerita-cerita sedikit tentang anak-anak. Sepertinya nyambung kalau ku send kan sms macam ini ke hp-nya
Ayuk mulai berpikir kalau mereka ini mestinya dimasukkan ke sekolah inklusi, Untuk anak-anak berkebutuhan khusus :-) Semakin hari, mereka bertambah unik saja :”)
Uh…,Mana strategi pertama yang kau tawarkan dulu Jie????
Jangan menyerah.. jangan menyeraaaaah… kulantunkan sedikit lirik D’Masiv itu

Kamis, 11 Maret 2010
19:38

Masih dalam posisi berpikir keras untuk menaklukan anak-anak itu. Minggu ini menjadi minggu yang tidak begitu menyenangkan bagiku. Apalagi bagi mereka. Hmm… tak cukup dengan hanya sekali transfer energi positif ke mereka. Ya, tak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tak seperti orang Yahudi yang sudah dibentuki main set dari kecil kalau mereka orang-orang cerdas, anak-anak Bungus ini lahir dari kehidupan pantai yang keras. Mungkin hanya sedikit di antara mereka yang dibesarkan di tengah keluarga yang ‘agak’ sedikit beretika. Allahualam, ana memang belum observasi langsung dari kegiatan sehari-hari penduduk di sana. Baru dari hipotesis awal lewat diskusi-diskusi dengan guru-guru, kepsek dan melihat cara belajar anak ketika di kelas.
Ups, jadi inget lagi kata-kata seorang guru yang menyebutkan kalau mereka itu setan semua. Sadis.
Dan sampai kini aku bertekad tak akan mengamini itu. Ketika aku sedikit mengutarakan kesedihan melihat kondisi mereka ke Pamong, beliau hanya tersenyum getir. “Tidak usah dipikirkan kali, Winda. Bisa stress nanti… Yang penting, kamu ajarkan materi kepada mereka. Sampaikan itu semaksimal mungkin. Sudah, itu sudah cukup”. Mereka ini, lanjutnya, sudah susah untuk diubah..
Ah… terbayang olehku, guru-guru yang memiliki ghirah mendidik dan komitmen ketika awal masuk ke sekolah ini. Apalagi mereka yang baru-baru keluar dari universitas. Keinginan mendidik yang dibawa, semangat yang membara bisa jadi turun karena letih, lelah, kecewa melihat SDM yang ada di sini. Sampai akhirnya memutuskan untuk menjalankan kewajiban seadanya saja. Aura mendidik hilang. Berganti dengan asal lepas tanggung jawab saja. Materi diberikan dan lah… selesai.
Tak sengaja terlibat diskusi kecil, lewat short massage service

Anak-anak Bungus itu kebanyakan anak-anak pantai. Melaut, nelayan. Cenderung keras dan nakal. Nikmati saja, InsyaALLAH akan ada hikmahnya…

Tapi saya tak ingin nasib mereka hanya berakhir di nelayan itu.

Mustahil seorang guru bidang studi apalagi hanya guru PL.. bisa melakukan itu. Sistem pendidikan itu yang sudah tak beres.. jadi rubah sistemnya dulu.

Hmm… selalu seperti itu. Sistem yang salah! Kapan lagi mengubah sistem yang salah itu supaya jadi benar. Saya coba pandangi lagi target saya untuk mereka 3 bulan ke depan. Akan BISA. Optimis!! InsyaALLAH. Kalau tidak! saya akan kembali lagi ke sana, suatu saat.

He..he.. ini sebuah integral besar pendidikan… saya yakin sehabis PL tidak akan terjadi apa-apa, Jie pun tak akan kembali ke sana… Tahu kenapa?

Kenapa?

1.Waktu 3 bulan tidak akan memberikan pengaruh yang besar, apa lagi ini satu bidang pelajaran saja
2.kalau sudah wisuda, kamu akan TES PNS, kemungkinan kecil ditempatkan di sana, kalau honor, gajinya kecil sekali.. Saya berpikir realistis saja, tanpa menafikan semangat seorang Jie,
Tapi yang penting usahakan? Walau kecil, tetap perubahan.

Sepertinya aku mulai sedikit memasukkan ini ke dalam plan masa depanku. Jangka Panjang. Kemarin sempat berpikir, kalau terjun ke dunia sekolah. Mengajar. Berinteraksi langsung dengan anak-anak, paling banter jadi kepsek. Tapi… ada banyak hal-hal besar lainnya yang mesti kau tahu, Jie!!

Minggu, 28 Februari 2010

LANJUTAN.... Diary PL....

Berupayalah untuk tak hanya menjadi manusia yang sukses, tetapi juga manusia yang bernilai.
Dari sana inspirasiku. Kuajak mereka berbicara. Lewat semua. Hati, alat ucap ini, ekspresi dan intonasi-intonasi pembangkit bagi mereka.
Come on… 8,10 atau 20 tahun yang akan datang, Ibu akan melihat kalian menjadi orang-orang besar di negeri ini. Menyaingi anak-anak kota itu… Jadi manusia sukses dan bernilai.

20:32Rata PenuhWaktu HP butut tercinta
Kamis, 18 Februari 2010

Datang sms putri, mengatakan kalau anak-anaknya di Kartika sana bandel-bandel. Hmmm….. guru-guru PL rata-rata mengatakan bahawa anak-anak mereka mada-mada… akan semua ingin mengatakan kalau anak-anak yang saya ajar itu bandel-bandel lho (dengan bangga…) hmm….

18 Februari 2010
10:40
Di sebelah kiriku duduk Yul, Teman senasib sepenanggungan, jurusan Sosiologi. Sebelah kanan teronggok tubuh perempuan berbalut kostum serupa denganku, pakaian lebay (seperti yang suka orang-orang bilang), Resi.
Rapat dinas kali ini dilaksanakan di X3, Pak Kepala Sekolah baru saja mengucapkan salam…
Talking about kelulusan siswa
Di menit selanjutnya…
“Idealisme???” lirihku…
Ini adalah fenomenanya
Ketika dia harus terkikis, tergerus
Dan kau hanya talok menatap diam
Saat-saat kemelayangannya

Kuhempaskan Eiger yang sudah disulap menjadi tas 'Pak Guru' itu. Ada Sonya di sana, sesama PL.
Bercerita…
Dan akhirnya keluar
“Itulah… ndak talok rasonyo jadi PNS doh….”
Aku tersenyum kecut.
Mesti….
“Mesti memngorbankan idealisme.”
Ah, lebih baik menyingkir dari pada hidup dalam kemunafikan, kata Soe Hok Gie.
Teringat kembali aku ketika beberapa waktu lalu, di liburan tentu saja. Bertandang ke salah satu rumah sahabat terdekatku. Bukittinggi. Kebetulan, kakaknya yang sedang hamil 7 bulan juga pulang.
Malam itu, beliau bergabung dengan kami yang sibuk membuat beberapa konsep untuk pergerakan organisasi ke depan. Yups! Yang intinya adalah pengkaderan dan dana mandiri.
Beliau berkata sumringah, “Uni jadi ingat masa-masa kuliah dulu.”
Kami hanya tersenyum sambil memberhentikan sejenak diskusi hangat kami.
“Udah lama uni tidak menyusun agenda-agenda amal yaumi, agenda dakwah…
“Habisnya, uni temenannya sama koruptor semua,” beliau melanjutkan.
Aku miris, beliau begitu nampak tersiksa ketika mengucapkan kata-kata itu. Kelulusannya sebagai PNS di sebuah Dinas Kesehatan Kota justru membuat beliau merasa tidak nyaman.
Di kantor itu sering membuat LPJ palsu. Misalnya saja ketika mengangkatkan acara. Peserta padahal cuma 15 orang. Ditulis 25 orang. Yang menginap di penginapan hanya 6 orang tapi yang dibuat justru tetap 25 orang. “Nanti uang hasil dari itu dibagi-bagi. Besarnya sesuai tingkat jabatan,” tutur sang uni.
“Uni biasanya ambil aja, trus uni kasih uangnya kepada orang yang membutuhkan dengan harapan uni tidak memakan uang haram. Menolak pun kita diledek. Sok idealislah… malah ada yang sampai dikucilkan.”
Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak….
Benar-benar sistem yang bobrok.

24 Februari 2010
09:25
Pebi Harianto, dia duduk tepat dibarisan awal setelah memasuki kelas ini. Ruang 1 ujian, kelas IPS 1 dan yang sedang ujian sekarang adalah XII IPA 1. Ho…ho.. dia nyontek lagi dengan teman di depannya, Novita Sandra Kirana. Dia sepertinya murka  sekali denganku. Berapa kali kami bersitemu mata. Kutatapkan mataku di matanya… beberapa detik kemudian dia mengalah. Masih ada takut di sana.
Sebagian mungkin sudah kesal dengan tatapan mataku. But oh… I must… Mereka benar-benar mesti diajar perihal kejujuran,

 jadi teringat masa SMA dulu, masa-masa kecil dulu ketika ujian..
+- 11.00
Ada 9 orang di ruangan ini, X3 ruang 4 bar8 saja mereka melakukan trik awal mengenalku. Cerdas. Winda. Winda Wildiana.
Ya ampun… di Peace-in nya aku. Ck..ck..ck…
Yogi Deam Anggara, sepertinya dia anak pintar. Hmm.. ternyata begitu juga dengan Winda. PMDK sudah di tangannya…

Sekilas mataku menangkap sosok yang duduk di depan bangkuku. Seprida Yeni namanya. Aku mencocokkan denah tempat duduk dengan absen yang sudah mereka isi. Jam hitam melingkar di tangan kirinya. Kelaki-lakian, dari caranya menatap, menulis, berbicara. Ah… begitu angkuh  sayang, aku tak akan bertemu dengannya di PBM.