Senin, 11 Oktober 2010

Yang Berguguran atau Bertahan..

Ketika memilih
ketika berjalan
kemudian merasakan riuh rendahnya perjuangan
indahnya bongkahan-bongkahan pengorbanan
dan kemudian kerikil-kerikil berdatangan
berjatuhan…
tapak itu semakin kuat
dan kemudian semilir angin yang mendekat
membuliri tapak-tapak itu dengan kelenaan
perlahan pun, ternyata jalannya licin, ternyata semilirnya beku
Lelah, letih, jemu..
Ingin surutkan saja ke belakang
Mundur..
Maka saatnya kah pembuktian?
Antara yang berguguran dan bertahan..
26 Juni 2010

Arus

Deras arus..
Hanyut serpihan-serpihan yang sudah mulai sempurna
Menjadi puzzle yang terangkai gambarnya
Usiaku terus merambat
Detik demi detik merenta
Kularutkan diri saja dalam serpihan yang belum lagi sempurna…

SangKaKi

kakiku meliar

entah kemana maunya dia

kunci-kunci pemasungnya tak jua kutemukan

kukutuki kebodohan yang memaksa membuliri kepala

pindah, tukar otak

semua orang sudah binasa membinasa

begitu juga dengan kaki yang di dekat ini

oh… sungguh aku tak maksud dengan apa dia kini

sah saja karena kaki memang untuk menapak

kalau kemudian terinjak dia itu wajar saja

karena tempatnya tetap diletakkan di bawah

Udara Malam

Kujejalkan udara malam itu ke rongga dada milikku
Tak peduli aku akan masuk dari lubang hidungkah atau mulutkah?
Lubang telinga atau mungkin yang lainnya…
Kuresapkan lagi dalam-dalam
Akan beda tentu dengan dia di fajar dan di pagi
Tapi terserahlah..
Aku ingin udara yang malam ini saja
Sebab lisanku tlah bersumpah
Kukan mengutuk malam ini saja
mengeluh malam ini saja
dan kemudian bermimpi di malam ini saja
tak kan pernah kutunggu esok lagi untuk menamatkan kisah

Padang, 18 Juni

Waktunyakah?

Bila waktunya tlah tiba
Meruas satu-satu rahasia yang tlah tercipta sejakku belum ada
Menapak di dasar bongkahan-bongkahan bumi
Menghirup seluas-luasnya udara yang tlah ada sejakku tak ada
Kadang kuingin dia tetap rapat untuk menjadi rahasia
Walau emosi tuk membuka juga tak kalah hebatnya
Aku meremang.. kenapa aku sepengecut ini?
Sementara pincangku mulai merambat
Dan dengan bodoh aku kembali bertanya
Apalagi ini?
Yang begitu membuatku takut
Akan bius rasa yang aku sama sekali tak tahu batasannya
Terasa sangat tak paham
Walau sebenarnya aku paham..
Sejauh mana aku tlah berjalan?
Bukankah ini bukan kelok pertama?
Atau di sinilah mungkin tempatku mereguk sedikit dahaga untuk bersiap menemui rahasia-rahasia lainnya?
Atau bolehkah aku menghempaskan semua sesak-sesak rahasia yang satu per satu datang kepermukaan
Rahasia yang sangat ingin tapi juga tak ingin kutahu
Mungkinkah…
Terlampau dini untukku..
Tapi bagaimana jika benar waktu itu tlah tiba??

Balada seonggok Jiwa

Di tengah rasa yang ingin menyendiri

Setelah keping-keping kerikil yang jatuh melukai

Kesendirian kian merambat

Dan… Ah, kemana mereka kemarin yang menunjukku?

Menjatuhkan talaknya padaku?

Kemana mereka kemarin yang memekik lantang ketika namaku dilontarkan?

Kemana mereka yang memeluk erat tubuhku saat rasanya aku begitu tak berdaya untuk mengemban ini kembali, lagi…

Kemana mereka yang begitu meyakinkanku?

Antum mampu menuntaskannya, kawan!

2 Mei 2010

Sabtu, 02 Oktober 2010

Wisuda Okt' 2010

Pada cinta yang selalu mengalir tiada henti, pada rasa yang tak bisa terkuak dalam untaian kata-kata. Alhamdulillah, tiga mujahidah Alamanda mengakhiri perjuangan kampusnya, dan akan melangkah ke step berikutnya…

Pagi-pagi mereka sudah mandi dan makan dahuluan pada talam hijau dengan menu seperti biasanya, gerombolan T. Menu yang mungkin akan sangat mereka rindukan setelah tak lagi di rumah penuh cinta ini…

Dalam setiap momen ada banyak yang dapat dikenang dan yang membuat terkenang
Baru kemarin aku mendengarkan isak sosok yang sedang mengenang sang ibu, hari wisudanya tak jauh dari tanggal meninggal sang ibu. Orang special itu tidak menemaninya ketika mengenakan toga kemenangan , atau sekedar berfoto, mengisi kursi PW yang sudah disediakan untuk para orang tua. “Dulu… apa yang aku lakukan hanya buat mama, mama yang memperjuangkan pendidikan kami hingga tahap ini, mama yang selalu melontarkan senyum kebanggaannya ketika kami menuai prestasi, mama yang banyak bercerita tentang hidup…”

“Rasanya wisuda ini hampa saja, karena mama sudah tak ada… aku tak akan menemukan senyum kebanggaan itu.. aku tak akan merasakan kecup penuh cintanya di keningku…”
Bait-bait yang bergulir kemudian disertai isak satu-satu, yang lalu menderas…
Rindu yang begitu bergejolak untuk orang tua. “Aku hanya menyesal tak memberikan yang terbaik ketika mama ada…”
Hmm….