Kamis, 29 Juli 2010

Setelah membaca Pak Comblang Kang Ian dan SSD-nya Puch



Jadi sedikit teringat kejadian beberapa waktu lalu……. Beginilah kurang lebih reka ulangnya…

Nelangsa, begitulah kira-kira dia ketika mendengar berita yang sungguh tiba-tiba malam itu. Runtuh sudah sebuncah harapannya untuk berdampingan dengan seseorang yang minimal sudah mengerti bagaimana jalan hidup yang dia pilih. Dalam sebuah jamaah dakwah, menciptakan generasi Rabbani.

Bukan karena laki-laki itu tak tampan, tak kaya apalagi, memang sungguh bukan itu yang menjadi kriteria teratas yang sudah dipetakan dalam proposal hidupnya. Dia hanya menginginkan sesosok laki-laki tarbiyah dan mengerti ketika berbicara tentang perjuangan… dakwah… karena seperti bagaimana buku-buku yang dia baca… dia benar-benar ingin menjadi pendamping yang sangat ingin menguatkan kaki sosok itu di jalan dakwah. Menauladani bagaimana Khadijah atas Rasulullah…

Merajut cita-cita bersama dalam membangun peradaban islam di muka bumi ini.

Sungguh bukan karena dia tidak mengenyam pendidikan di kampus yang menjadi kendala di hatinya, bukan pula karena pekerjaannya yang hanya seorang petani. Ah, kenapa semua menjadi sebegitu rumit seperti ini? Dalam.. dia memijit kepalanya yang tak terasa sakit. Sengaja kakinya dipasungkan di tepi sungai ini, ia memilih untuk tak segera pulang sehabis mengajar hari ini, hanya ingin sendiri untuk beberapa saat.

Entah mengapa.. terlintas dibenaknya kalau kecimpungnya di dunia ‘ini’ akan segera berakhir. Segera, setelah laki-laki itu resmi menjadi walinya, dan itu taklah berapa lama lagi.

Tipenya yang pendiam ternyata memang menjadi bumerang. Teringat kembali ketika semester delapan kemarin sang ayah berkata, “Bagaimana Ra, sudah punya calon?”

“Calon apa, Yah…” ujarnya tersipu, kembali ditekurinya jahitan yang menuntut untuk segera diselesaikan. Pagi besok, ibu sudah akan memakainya, ke pesta pernikahan anak tetangga. Seusianya.

“Ayah maunya selesai wisuda nanti kamu langsung menikah saja, ndak baik berlama-lama. Sekarang kalau kau sudah punya pacar, calon maksud ayah. Baik kalau kau kenalkan kepada ayah,” ayah bertutur datar penuh wibawa.

“Hm..,” nafasnya menghela berat. “Saya tidak punya pacar, Yah,” katanya kemudian lantas mengalihkan pembicaraan.

Tak pernah dia menduga ternyata jawaban itulah yang menjadi sumber sang ayah memutuskan untuk menjodohkannya dengan salah satu kerabat dekat. Pulang ka bako. Sang ayah sangat tahu sekali bagaimana sang anak berinteraksi dengan laki-laki. Terakhir masa SMA dia melihat adanya interaksi sang anak dengan teman laki-laki. Empat tahun kuliah, tak pernah terdengar sedikit pun di telinga sang ayah kalau dia berpacaran dengan seseorang. Padahal di jaman sekarang sungguh sangat jarang mereka yang tidak memiliki pacar. Seperti gadis-gadis lain di desa itu. Sang ayah menyimpulkan sendiri, kalau sang anak tak sanggup mencari sendiri. Harus dicarikan!

Perjodohan itu tak pernah dia tolak, hanya kepada beberapa orang saja dia menceritakan kisah sepotong hatinya. Tak ada kemungkinan secercah jarum pun untuk menolak. Dia lebih memilih berdamai. Hanya ayat ini yang menjadi penguatnya "....dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)....)

Jumat, 16 Juli 2010

Ketegaran Langkah Pascakampus


Udara malam pasca hujan menusuk-nusuk. Tak ada jaket yang akan dirapatkan untuk menghalau udara yang sekan merambat membekukan. Wira menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain, mengurangi dingin. Di pangkuannya terbuka al matsurat.
Beberapa menit yang lalu kami baru saja menuntaskan magrib. Dan beberapa menit lagi, seorang sahabat akan berangkat. Lagi. Sejatinya pertemuan pasti ada perpisahan. Sama seperti adanya kehidupan maka akan ada kematian, ajal. Karena sesungguhnya semua memang diciptakan berpasangan.

Berapa tahun sudah kita berkutat dengan buku, diktat-diktat tebal, tuts-tuts keyboard, radiasi komputer/laptop, mempelajari segudang teori, materi. Dan kini… tiba saatnya dia meloncat menjadi aplikasi-aplikasi di tengah interaksi dengan sekian makhluk di muka bumi ini. Namun tetap kemampuan berkomunikasi yang menjadi poin terurgen dalam membina hidup pasca kampus, kupikir. Tak hanya tuntas dengan IPK Summa Cumm Laud, tak cukup dengan keahlian mempresentasikan ide dan gagasan. Masih panjang deretan keahlian yang mesti kita kantongi agar ‘diterima’ di luar sana. Kawan…
Tak sedikit wisudawan yang tergugu ketika telah mendapatkan secari kertas itu. Akan dibawa kemana?

Pascakampus, saat kita membuktikan ketangguhan hidup yang sebenarnya. Karena ketika masih dalam tempurung kampus, megahnya dunia idelaisme, kita belumlah menjadi manusia yang sesungguhnya. Ketika itu kita hidup di tengah-tengah manusia yang satu komunitas, dan beruntung jika bertemu dan dekat dengan orang-orang yang memiliki prinsip hidup, idealisme, keteguhan pemikiran. Pun ada yang mengusik itu tak begitulah berarti karena ya sama… yang kita hadapi adalah satu komunitas. Akademik. Tak kan jauh-jauh dari itu..

Kini… giliran kau.
Tadinya aku pikir tak akan mengantarmu.. seperti biasa, itu caraku mencintaimu. Tak ada di saat-saat mengharukan. Karena sebenarnya aku memang tak begitu suka dengan suasana seperti itu. Dramatis.

Kaus putih yang membungkus kakiku memang sudah basah sejak tadi, kugerak-gerakkan dia yang berbalut sandal gunung itu. Kalau tanpa aktifitas akan semakin dingin.

Aku terpaku sejenak pada sosokmu yang membelakang. Kau berangkat dengan dandanan yang membuatku tersenyum. Rok hitammu sobek membentuk sudut siku-siku dengan sisi 4 cm plus minus. Sementara jilbab hitam presmina yang kau kenakan juga bernasib sama, sobek hampir 10 cm, untung saja cuma di ujungnya dan itupun sudah kau tutup dengan jaket ‘kebesaran’ kita. Kalau boleh berkata, kau kusut sekali ^^

Ingatanku melayang
Saat melangkah bersamamu dalam aksi-aksi itu. Berkejar-kejaran mengejar waktu rapat pukul 06.00 pagi (dan aku begitu menang kalau kau datang setelahku dan akan memberengut kecewa ketika mendapatimu sudah duduk duluan di atas sajadah panjang mushala-mushala kampus), melewati malam-malam tanpa picingan mata, evaluasi berbagai macam perkembangan diri, berapi-api menyusun target-target masa depan. Yang kadang orang berkomentar. Gila. Kita justru menyambutnya dengan deraian tawa. Dan mengatakan tidak ada yang tidak mungkin, jika ALLAH menghendaki.

Obsesi yang terbagi tiga menurunkan tujuan, sasaran dan target. Di bawah tujuan itu ada ibadah pada-NYA, di bawah sasaran ada Ridha-Nya, dan finishing di target adalah jannah-NYA. Kemudian semua itu dirangkum dalam satu garis dan frasa amal-amal nyata. Dilanjutkan dengan draf 100 impian kita. Kau bawakah kertas itu ke sana?? Ukhty….

Selamat jalan untuk terus melingkari mimpi-mimpi itu dengan spidol merah. Dan kalau kau berkenan, laporkan padaku setiap kau melakukannya. Insyaallah sangat akan memacuku berlari lebih kencang lagi.
Ana uhibbukifillah…
Semoga ALLAH mempertemukan kita di tempat yang paling mulia kelak. Untuk orang-orang yang beriman, bagi orang-orang yang bertakwa. Istoqomah, itu satu kunci lagi.

16 Juli 2010
21:10
Pasca mengantarnya dari BIM

Kamis, 15 Juli 2010

Di Dadamukah Palestina???





Berita yang timbul tenggelam tentang salah satu tanah suci umat Islam, Palestina. Seiring dengan berjalannya waktu, media pun tak lagi marak memberitakan bom-bom yang mengguncang Palestina. Yang meluluhlantahkan sekian lagi bangunan, yang merenggut sekian lagi manusia. Ibu kehilangan anak dan begitu juga sebaliknya, dan begitu pula seterusnya.

Penting bagi kita untuk mematrikan di dalam diri bahwa kemerdekaan Palestina adalah cita-cita kita bersama, umat Islam. Banyak di antara kita yang masih belum mengerti atau malah enggan untuk terlalu ribet memahami mengapa kita mesti turut berjuang untuk palestina.

Dahulu kita semangat untuk menggalang dana namun karena beritanya tak lagi marak, ditambah lagi malas mengunjungi situs-situs yang memuat info terbaru Palestina, kita melupakannya. Yang dulu sudah berkomitmen untuk memboikot produk-produk yang turut memberikan dana pembantaian untuk saudara-saudara kita di Palestina kembali pudar. Biasa saja lagi memakai produk-produk. Dengan alasan tidak cocok dengan produk lain.

Pernah seosang teman bertahan untuk tidak menggunakan salah satu pembersih muka bermerk tuut (sensor). Walhasil, wajahnya jerawatan. Dia tak gentar, cukup lama dia mengalami ‘kesengsaraan’ pada wajahnya. Pernah sekali dia coba memakai produk itu kembali, hasilnya memang jerawatnya berkurang. Namun dia berpikir, mengingat-ngingat kembali dan membaca literatur tentang sumbangan besar produk-produk bermerk tersebut untuk persenjataan orang-orang Zionis. Danj kemudian fia menjafi orang yang bertahan… Memboikot segala macam produk yang dananya menyumbang untuk gerakan Zionis.

Beberapa tips supaya Palestina selalu hidup di dadamu…

  1. (Bagi yang masih bingung_pen) pahami alasan mengapa mesti peduli dengan Palestina
  2. Adakan pencarian kabar terbaru tentang palestina, seminggu atau minimal sebulan sesekali, atau ikutlah di grup-grup Dumay terkait Palestine up to date.
  3. Tontonlah video-vidio palestina
  4. Selalu sisihkan sedikit uang saku kita untuk saudara-saudara kita di Palestina, bila perlu sediakan tabungan khusus bertuliskan kata-kata yang menyentuh seperti “Save Palestina”.
  5. Boikot produk-produk yang memberikan sumbangan terhadap misi-misi zionis
  6. Cari info tentang produk-produk tersebut di Internet
  7. Berkomitmenlah untuk tidak menggunakannya, selama-lamanya…
  8. Selipkan doa di setiap harinya untuk kemerdekaan Palestina

Senin, 12 Juli 2010

Tarbiyah di tiap kejadian...

http://archive.kaskus.us/thread/2750365
10:19 pm
12 Juli 2010
Setelah monitor mau juga berkompromi, ah.. sebenarnya dia sudah lama teriak-teriak. “BAWA AKU ke PAK UJANG!!!!!”
^_^

Adzan berkumandang. Bergegas kami sudahi saja uji kesabaran itu, langkah sengaja diperlebar. Kuangsurkan telepon genggam ke Shaffy. Lantas kemudian menuruni batu-batu koral yang sengaja disusun begitu rapi. “Kita shalat di masjid dekat sini saja,” tuturku sambil menunjuk arah masjid yang hanya sekitar 10 m dari tempat kami sekarang. Shaffy hanya mengangguk, tangannya sudah meraba kantong jaket hitam sebelah kiri. Mengeluarkan kunci motor bertuliskan 4 frase save Palestine.

Usai shalat, “Hp-ku,” ujarnya menatapku, diikuti gelengannya.
“Ceroboh!” tuturku halus. Kami telusuri kembali jejak tadi. Sayang sama sekali tak ditemukan. Nadanya silent juga mungkin. “Sudahlah… tak apa, tidak rezeki,” tuturnya bijak, walau kutahu getir ada juga di sana. Itu Hp pemberian ayahnya, sudah sangat lama, walau sebenarnya untuk ukuran sekarang sudah sangat butut. Yah, dia memang tipe setia. Termasuk juga terhadap barang. Sepatu kalau tak sobek tak diganti, tas kalau tak bolong juga belum akan dipensiunkan. “Zuhud,” candanya ketika ditanya.

Sepanjang jalan aku beristighfar. Hmm… pasti ada yang salah di antara kami berdua sehingga Allah memberi ini. Lirih, namun tetap terdengar olehku yang sedang konsentrasi menembus malam. “Aku lupa infak kemarin,” katanya.
Pikiranku pun menerawang…
Ah, beruntung sekali kau, langsung dapat alarm seperti itu. Dan yang lebih beruntung lagi, kau memiliki kesadaran untuk memaknai setiap kejadian yang menimpamu.


Seringkali kita acuh dengan kejadian-kejadian (baca: bencana-bencana) kecil yang menimpa kita. Dia lewat begitu saja tanpa rasa. Padahal dalam setiap kejadian itu ada pelajaran, pendidikan bagi nafs-nafs. Ketika kaki tersandung, kita hanya spontan mengatakan “aduh”. Hanya sebatas itu, tidak merenung. Kesalahan apa yang sudah saya lakukan hari ini?

Minggu, 04 Juli 2010

Langit Malam di...

Mengilau kilatan terang di atas sana
Penghias langit di atas malam
Biasanya orang kan kagum, jika melihat sinar di tengah gelap
Tapi, di sini kau justru melihat terang yang tak diharap
Tak ada anak-anak yang bersorak riang di bawahnya
Seperti mercon-mercon yang ada di Negara kita
Tiada sama sekali bawa riang
Justru ketika itu bibir-bibir bergetar
Badan-badan kelu gemetar

desingan dan dentuman menyusul setelah cahaya …

Hingga siang datang
Kau kemudian melihat puing
Menatap mayat yang lagi-lagi mayat
Sosok yang tak sempat menghindar tadi malam
Atau malah sosok yang tak harap lagi hidup
Sehingga mati lebih jadi pilihan menyenangkan

Kau kan tampak wajah gagu
kemarin kulihat, memutih bibirnya
Kumal muka layuhnya oleh air mata yang mengering di kedua pipi mungilnya
Menatap takut pada setiap orang baru yang menghampirinya…
Ah, dia terlalu dini untuk kenal meriam, bom, dan potongan-potongan mayat…

Selasa, 29 Juni 2010

Black Campaign di Sarangintelek

Wajah sengirnya

Choose yang berkumis

Lalu kemudian setelah bubaran

Mereka baru berani berbisik-bisik

Mengumpat…

Atau sedikit bercerita kepada anak istri di rumah

Melampiaskan kegeraman

Tentang apa yang diucapkan REKTOR tadi di SENAT

“Masa’ rapat senat itu yang dibahas???”

Cuma, hanya, sebatas ITU


Lain lagi

“Kalau si kumis kalah, kalian semua E,”

Sang DOSEN mengaum

Tentu saja bukan di kebun binatang

Kening mereka berkerenyit…

Tapi hanya berkerenyit

Tak ada yang berani bilang

“BAPAK tidak bisa PAKSA kami!!!”

Tak ada yang BERANI lantang…

Disuruh pakai baju merah, oke

Baju mana juga boleh, PAK….

Sikumis? itu gampang

Kami sudah tak peduli

TERSERAH…

Kalau dijamin A

Hehehe…


Tak ada itu ruang bebas ‘politik’

Sarangintelek???

Sudah kubabas

Dengan kipas

Wahahaha….

Uang…

Beli--- ayo beli semuanya…

Chassss…..

Dinodai langsung oleh sang REKTOR dan JAJARANNYA

20:46 WIB

Menjelang pesta, 29 Juni 2010

di tengah kebencian akan ketidakberdayaan, ketak tahuan harus apa??? Alangkah malunya mereka '98 dulu

Pada KITA!!!!!

Minggu, 27 Juni 2010

Belajar Tak Menyalahkan Ukhuwah

Karena Memang Bukan Indahnya Saja yang Akan Dirasa



Asw. Sejenak aku teringat akan dirimu, Aku sangat merindukan sosokmu yang dulu, yang selalu aku banggakan, akan tetapi aku tidak menemukannya lagi, entah kemana… Saudaraku dimanakah engkau sekarang? Akankah kubisa bertemu denganmu lagi??

Sms itu di-sendkan seseorang di beberapa menit menjelang tengah malam (23:49:09) kepada seseorang juga yang mungkin sangat dicintainya. Sebuah buncahan rasa yang lagi-lagi mungkin, sudah dipendam begitu lama. 4 atau 5 bulan belakangan. Penerima sms ingin sekali membalas, sudah diketiknya… Namun baru dia kuatkan hati untuk mengirim di pagi harinya.

Seberapa pantaskah aku untuk kau banggakan ukhti??? Aku terlalu rapuh untuk itu, aku tak begitu kokoh untuk selalu menjadi penyangga, penopang, motivator, yang terdepan, dan kini aku masih sibuk mencari, mengobati luka mana yang telah membuatku cacat serupa ini. Dalam kesendirian (entah mengapa aku begitu merasa sendiri), hanya Dia tempatku mengadukan segalanya. Dialah pemilik segala rasa… karena Dialah yang telah mengizinkan rasa dan keadaanku kini. Aku sedang dalam perjalanan ukhti, mengobati luka-luka, sambil mencoba untuk tetap berarti bagi orang lain di sisa-sisa tenaga yang kutahu tak lagi utuh… Meski saat ini aku terasa begitu sendiri… tapi tak apa. Toh, hanya Dia sebaik-baik penolong, hanya Dia sebaik-baik pelindung, hanyalah DIA…Syukran sudah mengirimkan pertanyaan itu untukku, membuatku sedikit lega, masih ada yang rasa dengan rasaku kala ini.. dan membuatku menjawab tentang apa yang terjadi denganku kini..`

Balasan
Setiap helai daun yang jatuh telah tecatat sebagai takdirNya dan ada dalam kuasaNYA.. Maka yakinlah semua yang Allah beri ialah yang terbaik, Meski yang terbaik tak selalu jadi yang terindah…

Lagi
Aku mengenalmu lewat jiwa bukan lewat mata.. Aku menjadikanmu Saudara lewat hati bukan lewat kata.. Berani mengenalmu berarti berani mengenal sifatmu.. apapun itu, kuberani menerima segala tentangmu.. Ku tak tahu setinggi apa posisiku di hatimu sebagai saudara.. Syukran atas ukhuwah selama ini.. Semoga Allah memelihara dan menjaga ukhuwah ini dengan keikhlasan dan kebaikan..
Tetaplah jaga dirimu untuk RabbMu.. Karena hanya Dia yang selalu bersamamu...

Betapa indahnya, jika persaudaraan, ikatan persahabatan hanya berlandaskan Allah semata. Maka yang timbul pun akan pertautan antar hati dengan nurani, ketenangan. Pertautan cinta atas dasar kesamaan aqidah, kesamaan visi akan terciptanya generasi rabbani menjadi ikatan yang tak kan pernah terputus hingga kaki menginjakkan syurga.

Namun dalam perjalanan, terkadang kita begitu sulit memaknai kata-kata ukhuwah. Malah, banyak di antara kita memandang sempit kata ukhuwah itu. Sampai akhirnya mereka mengatakan “Apa itu ukhuwah-ukhuwah, bosan ana mendengarnya!” Na’udzubillah.. itu dilontarkan tak hanya satu dua orang, bahkan ada yang kemudian mundur teratur dari pentas ‘dakwah’ karena alasan sudah bosan dengan koar-koar ukhuwah yang tanpa aplikasi.

Ketika dia sedang mendapatkan masalah/musibah justru tak banyak yang memedulikannya, bahkan bertanya pun tidak. Ketika dia mendapat masalah malah banyak yang menjauhinya, memandang miring, bukan merangkul. Apa itu ukhuwah?

Seorang ketua BEM sebuah Fakultas akhirnya mundur karena merasa ketika setelah diangkat menjadi ketua BEM didukung sekian banyak sahabat dia merasa ditinggalkan, merasa sendiri. Padahal dia sudah diamanahi tugas yang begitu berat dan memenatkan. Apalagi tekanan dari pihak birokrat maupun mahasiswa-mahasiswa kiri begitu kuat.

Kasus lagi, tentang seseorang yang terjebak kasus VMJ. Tiba-tiba saja kasusnya sudah menyebar, teman-teman sejawat ‘terasa’ semakin menjauh. ‘Rasanya’ (baca dengan tekanan-pen) semua orang sudah menggunjingkannya tanpa ampun. Ketika pertemuan di halaqah pun ‘rasanya’ dia menjadi orang yang begitu hina. Ah… dimana ukhuwah itu? Walhasil, bukan malah sadar akhirnya sang perempuan tambah dekat dengan sang laki-laki.
Berserak lagi kasus lainnya yang membuat seseorang kemudian membenci yang namanya ukhuwah. Padahal konsep ukhuwah dalam Islam sangatlah mulia sampai-sampai dalam H.R Bukhari dan Muslim terukir bahwa Rasulullah mengatakan “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Jelas bagaimana penekanan kalau kita memang diwajibkan mencintai saudara. Begitu juga Rasulullah pernah mengatakan kalau umat muslim itu ibarat satu tubuh. Jika salah satu di antaranya sakit maka sakitlah seluruh tubuh itu.

Ketika berkelindan dengan permasalahan maka yang utama yang harus ada dalam diri adalah ketenangan, kejernihan hati dalam melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi, analisa dari semua sisi, dan husnuzhanlah kepada ALLAH. Saat mendapati saudara yang sedang terlihat bermasalah, maka hindari menganggapnya sebagai terdakwa. Atau malah tanpa kata akhirnya diam saja. “Tidak sanggup rasanya saya untuk seperti dulu lagi dengannya setelah tahu perangainya seperti itu,” tutur salah seorang sahabat setelah dia memergoki sahabatnya melakukan kesalahan yang menurutnya sangat prinsip. “Kalau di forum-forum dia seperti orang yang begitu paham, eh.. ternyata dia sendiri yang berbuat,” tambahnya ketika itu.

Untuk fenomena-fenomena seperti ini, tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Yang sedang bermasalah atau saudara-saudara lainnya karena semuanya saling berhubungan. Sebab akibat, secara fitrahnya maka mau tak mau ketika melihat seseorang melakukan kesalahan akan terjadi perang dalam diri, apalagi kesalahan fatal. Muak, benci, marah, sedih berbaur menjadi satu. Namun itu yang perlu kita pahami bahwa semua itu membutuhkan proses. Kenapa seseorang sampai melakukan kesalahan? Hidupkan budaya tabayun itu dalam diri kita sendiri, bukan memvonis.

Di sisi orang yang bermasalah, maka dia pun harus tegar menerima konsekuensi pengucilan dan segala macamnya karena tak semua orang memiliki jiwa besar untuk menerima kesalahannya langsung dengan kasih dan tangan terbuka. Dan dalam kondisi itu, jangan pernah menyalahkan ukhwah. Karena sebenarnya semua perlakuan yang diterima itu merupakan konsekuensi dari sebuah kesalahan. Kita pernah mendengar karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Kesalahan yang dilakukan memang bisa seakan melibas habis semua kebaikan yang dilakukan sebelumnya. Maka tiada jalan lain selain sabar dan sadar kalau itulah sebenarnya ujian dari ukhuwah dan ujian yang akan membuktikan mampukah kita tetap bertahan di jalan ini. Apa setelah melakukan kesalahan kita kan mundur atau malah bertekad untuk kembali memperbaiki diri dan meningkatkan kedekatan denganNYA.

Sejenak kita mengingat kembali bagaimana kisah Ka’ab bin Malik yang absen dalam perang Tabuk. Hukuman pengucilan justru kemudian berbuah manis, ketika dosanya langsung (baca dengan penekanan-pen) diampuni oleh ALLAH Swt. Itu terjadi setelah dia dengan sabar melewati masa-masa sulitnya sebagai konsekuensi dari kesalahannya.

Sikap dingin masyarakat kepadanya terasa lama sekali. Sampai kemudian tiba-tiba datang seseorang dari Syam menyerahkan sepucuk surat padanya dari raja Ghassan. Isinya “… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!”
Ka’ab berkata, “Ini juga salah satu ujian!” Lalu dia memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Setelah 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50, Ka’ab sedang berdzikir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, dan tiba-tiba dia mendengar teriakan, “Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah:118)

Jangan pernah menyalahkan ukhuwah karena sebenarnya recik-recik yang membuat kita bertanya tentang ukhuwah meruakan salah satu ujian dari ukhuwah itu sendiri. Yang sabar akan memperoleh ukhuwah yang lebih erat lagi, kecintaan akan jalanNYA lebih teguh lagi, yang tidak maka akan mundur bahkan menyingkir dari pentas dakwah.

Minggu, 27 Juni 2010
23:22 WIB
Najwan yang telah rela mendengarkan di antara sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir semester. Berserak di antara tumpukan buku-buku dan potongan-potongan karton kuning dengan berbagai bentuk.