Rabu, 15 Mei 2013

Deadline, Blog dan Majalah :D

Bismillah..
Jam menunjukkan pukul 09:31 Waktu Kantor Saya

Entahlah... meski semakin dekat dengan deadline layout halaman yang saya tanggungjawabi tiap minggu. Saya masih enggan bergiat mengejarnya. Satupun belum saya susun. Haghag. Argh...

Ada majalah berjudul "Anak-anak Juara yang Menyejukkan Jiwa" di sebelah laptop saya. Menarik. Tapi menulis di blog lebih membuat saya merasa lebih baik saat ini.

Biasa... hari Kamis selalu menjadi rasa tersendiri. Saat setumpuk pekerjaan yang mesti diselesaikan harus ditingkahi dengan keharusan menulis muatan sehalaman di sebuah koran.

Makanya, menulis di blog merupakan refresh dan keringanan bagi saya. Menulis di blog adalah kebutuhan lain, di samping menulis diary. Diary yang saya sadari sudah tidak hanya memuat nama saya sendiri. Ada dua orang khusus yang kini lebih banyak menyita perhatian saya. Dan di blog ini pun juga begitu.

Tiba-tiba saja rindu Fathul. 
Memangdangi lagi majalah 4 tahun lalu itu. "Anak-anak Juara yang Menyejukkan Jiwa".

Alangkah indahnya Islam, yang menjadikan istri (atau suami) dan anak-anak sebagai penyejuk pandangan, penghalus budi, dan penyemangat pencarian. Doa memohon kepada Allah, agar pasangan-pasangan kita, dan anak-anak keturunan kita, dijadikan penyejuk pandangan (qurrata a'yun), adalah doa yang bahkan kita dengar, atau kita hafal, atau kita resapi, jauh sebelum kita menyelami kehidupan keluarga dan menanggung resiko beranak-pinak :D

Semangatnya sangat jelas, Agar kita mengerti betapa besar kebutuhan kita akan penyejuk jiwa: istri, suami, dan anak-anak.

Maka, di tengah banyaknya anak-anak yang beranjak tumbuh dan gagal menemukan jati diri mereka secara lurus, kita akan sangat berbahagia menyaksikan ada dari mereka yang sukses menjadi juara. Di dunia juga akhirat.

Amiinn... Semoga... Ya Rabb.. Kabulkanlah...
*Pentingnya pendidikan anak
Fathul... Insyaallah... Bunda.....

Senin, 13 Mei 2013

Rusuh Kisruh Media dan Saya

 
20:45 WILaptopSaya
Senin, 13 Mei 2013

Bismillah...
Kisruh di media sejak beberapa waktu lalu membuat saya akhirnya tergugah untuk menulis ini. Sebelumnya, saya sudah memang menarik diri dari berpikir-pikir yang seperti ini, sekedar berbincang ringan dengan para kawan dan sedikit bercanda tentu ada sesekali. Maklum latar belakang organisasi yang saya geluti sejak kuliah cukup melatih adrenalin saya untuk tertarik dengan hal-hal yang berbau kepemerintahan. Perpolitikan. Hukum dan kasus-kasusnya.

Namun saya tuliskan sekali lagi, dari organisasi yang membawa saya pelatihan hingga ke daerah industri nan padat di Pulau Jawa (yang telah membuat saya tahu banyak hal dan memutuskan banyak hal) sebenarnya sudah saya tepikan sedikit dari pemikiran saya. Meski lambaian tetap sulit untuk diabaikan.

Berkecimpung di dunia filantropi 1,5 tahun terakhir membuat saya memutuskan bahwa memfokusi dunia filantropi adalah satu di antara dua pilihan saya (profesi). Biarlah yang lain berjuang di ranah lainnya. Mereka yang jadi wartawan dengan tugas kontrolnya, mereka yang mulai masuk ke ranah politik dengan metode perjuangannya, mereka yang di dunia pendidikan dengan caranya, yang jelas... jadi apapun, keidealisan tentang kebenaran itu yang harus senantiasa kita pertahankan. Menjadi apapun. Karena sejatinya, bergabung di dunia kerja, di dunia masyarakat yang sesungguhnya merupakan tantangan luar biasa dibanding ketika kita masih berada dalam dunia kampus.

Kembali lagi ke kekisruhan yang akhirnya membuat saya menulis di tengah letih usai perjalanan dua jam penuh dengan kendaraan motor, menggendong si jagoan yang baru lepas lima bulan. Beratnya? ampuuunnnn :D

Mencermati dan mengikuti yang sedang hangat itu jelas bahwa dukungan publik terhadap institusi pemberantas korupsi sedemikian besarnya. Termasuk saya tentu saja. (namun apakah dukungan tersebut akan menjadikan institusi tersebut sebagai berhala baru yang semua dia itu benar dan selain dia salah?) saya pikir tidak.

Sejak awal munculnya kasus impor daging sapi, selagi 'kawan-kawan' sibuk dengan opini di sosial media saya diam dan sebenarnya cukup mengerutkan kening. Kalau sebelum ini yang dihantam itu partai lawan, cepat kali judge-nya. Eh sekarang... cepat pula judge-nya soal difitnah dan macam-macam lainnya.

Santai kawan, sebagai orang yang tidak berada langsung dalam pusaran tragedi yang kini terjadi, tentu tidaklah bijak jika kita  sok-sok'an. Menjadi pengkritik? apakah sudah berkapasitas dan berlatar belakang ilmu? jangan-jangan, komentar kita justru menjadi suasana semakin ricuh. Tunggulah sampai semua jelas, sabar. Tonton saja dulu sembari berdoa, "Ya Rabb... rakyat ini sungguhlah letih dengan segala permainan dan kebohongan, jawablah doa ini ya Rabb"

Kira-kira begitulah redaksinya. Atau kalau mau versi yang lebih panjang, silahkan. haha.. sudah kemana-mana tulisan saya.

Pada tulisan kali ini, saya tidak hendak membahas tentang itu tapi ingin mengulang sedikit dari buku yang pernah sangat saya gilai di masa lalu.

Dalam buku bill Kovach & Tom Konsenstiel, seperti yang dulu sedikit saya pelajari, dalam meneliti/menginvestigasi sebuah kasus maka kita harus membersihkan diri sari segala kepentingan. Kebenaran menjadi elemen pertama dalam jurnalisme.

Sedangkan, berimbang maupun fairness adalah metode. Bukan tujuan. Keseimbangan bisa menimbulkan distorsi bila dianggap sebagai tujuan. Kebenaran bisa kabur di tengah liputan yang berimbang. Fairness juga bisa disalahmengerti bila ia dianggap sebagai tujuan. Fair terhadap sumber atau fair terhadap pembaca?

Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi: Jangan menambah atau mengarang apa pun, jangan menipu atau menyesatkan pembaca, bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi dalam melakukan reportase, bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri, dan... bersikaplah rendah hati.

Konsep inilah yang sepertinya saya samar temukan dalam 'kisruh' beberapa waktu ini. Dimana awak media lebih sering menggiring dengan keras opini publik untuk bergabung dalam opininya.

Padahal, wartawan dilarang berasumsi. Jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Wartawan harus mendekat pada sumber-sumber primer sedekat mungkin. David Protess dari Northwestern University memiliki satu metode. Dia memakai tiga lingkaran yang konsentris. Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam adalah saksi mata. SAKSI MATA.

Elemen yang juga dimuat dalam buku Kovach dan Rosenstiel adalah INDEPENDENSI. Kovach dan Rosenstiel berpendapat, wartawan boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini. Kalau begitu wartawan boleh tak netral?

Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Impartialitas juga bukan yang dimaksud dengan objektifitas. Prinsipnya, wartawan harus bersikap INDEPENDEN terhadap orang-orang yang mereka liput.

Nah, keindependenan ini yang feel saya mengatakan tidak (terlalu kasar kalau saya katakan 'tidak' sebenarnya cuma yah.. mendekati itulah) dimiliki 'media besar' kita saat ini.

Semangat dan pikiran untuk independen lebih penting ketimbang netralitas.

Kesetiaan pada kebenaran inilah yang membedakan wartawan dengan juru penerangan atau propaganda. Kebebasan berpendapat ada pada setiap orang. Tiap orang boleh bicara apa saja walau isinya propaganda atau menyebarkan kebencian. Tapi jurnalisme dan komunikasi bukan hal yang sama.

Wartawan itu punya tanggung jawab pada nurani, mereka harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Layaknya, semua wartawan memiliki pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial.

Kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A&E Network, setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya.

Dan saya, sungguh gamang dengan pers kita. Mereka yang memiliki pengaruh kuat dalam membentuk opini publik. Pada akhirnya, nampak secara kasat bahwa ternyata pers kita telah lebih condong pada pers berbasis kapital. Idealisme yang dianut adalah idealisme pasar, idealisme 'pemilik'.

Moralitas  dari seorang jurnalis, kemudian terpaksa diabaikan.

Padahal, semua wartawan saya yakin tahu, penekanan paling penting pada profesinya adalah jelas: memilih kebenaran!

Kovach dan Rosenstiel menerangkan elemen kedua dengan bertanya, “Kepada siapa wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?”

Pada 1933 Eugene Meyer membeli harian The Washington Post dan menyatakan di halaman suratkabar itu, “Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.” Lantas bagaimana dengan Indonesia

Belum lama ini saya juga menemukan seorang wartawan (senior saya yang sudah lama berkecimpung di koran no satu di negeri ini), dia dikeluarkan dari Media yang bersangkutan karena investigasinya terkait perusahaan penyokong dana terbesar dari media yang bersangkutan.

(Blog ini ternyata tetap akan dimuati dengan tulisan macam-macam, padahal sebelumnya saya sudah merencanakan bahwa di rumah ini akan kuceritakan suatu yang ringan saja tentang saya, Fathul, dan Sang Imam)

Menjelang lelap saya bertanya, "Bang, abang mau jadi wartawan hebat?"
"Ya," tegasnya mantap dalam gelap.
"Wartawan hebat itu yang bagaimana?" ujarku polos.
"Yang idealis,"

Kami menutup mata dengan kecamuk pikiran masing-masing. Kata Idealis yang dalam.
Seperti kata yang kusimpan untuk si jagoan, "Jadi apapun kamu, profesi apapun itu, tetap harus dai"

Senin, 06 Mei 2013

5 Bulan Jagoan

diambil saat berangkat baralek Ammah Ria (26/4)
 
6 April 2013
Bismillah..

Dua hari ke depan, umurmu genap 5 bulan. Nak… kau semakin pesat bertumbuh, beringsut.. perut mungil itu mulai kau tarik-tarik. Dan kami mulai repot dengaan gerak-gerikmu.

“Fathul….”

“ Ya Allah Nak…”

“Astagfirullah hal adzimmm”

“Kan bunda bilang tunggu sebentar…”

Melihat kepanikan kami, kau malah melempar senyum, dengan mulut terbuka. Malah tak jarang pula tergelak. Memperlihatkan gusi yang tanpa gigi itu :) Fathul.. Fathul… : )

:) Kadang sampai di karpet karena sudah meluncur dari kasur santai. Atau dalam keadaan kaki dan punggung di atas kasur sementara kepala sudah menjuntai-juntai ke bawah. Sudah menjilat-jilat laptop, sudah meremuk-remuk lembaran buku-buku yang bunda atau ayah baca.

Sudah pula belajar mandi air dingin. Kemaren dibagi video bayi belajar berenang sejak umur tiga bulan oleh Bunda Ilen. Beberapa waktu lagi.. insyaallah kita belajar ya. “ Ajarkanlah anak-anakmu memanah, berenang dan menunggang kuda” (HR. Ahmad)

Bismillah.. Selalu dengan menyebut nama-Mu ya Rabb… Jadikan kami orang tua yang pantas untuknya. Yang mampu menuntunnya menjadi kebanggaan dunia akhirat karena ketakwaannya kepadaMU, karena akhlaknya yang mulia, karena kecerdasan, kekokohan dan ketangguhannya dalam menjalani bahtera dan berbagai tantangan dunia.

Ya Rabb.. Puji Syukurku selalu padaMU.. selalu.. selalu… :’)

Di atas karpet biru bergambar logo satu klub bola. Ditemani jagoan kecil yang sibuk memperhatikan jari-jarinya sambil berceloteh. Entah apa. Kukecup pipinya dengan lembut. “Luv U Nak… karena Allah” :’)

Minggu, 21 April 2013

4 bulan...

Bismillah..
Selalu.. dengan menyebut nama-MU ya Rabb..
Agar semua yang teruntai dalam tulis ini mengandung kebaikan.. karena semua kebaikan dari-MU dan semua keburukan adalah dari syetan.

"Lindungi hamba dan keluarga agar senantiasa lurus meniti jalan-MU ya Rabb.. hingga kelak ENGKAU izinkan kami 'menatap'MU, berbaris panjang di barisan kekasih-MU.. Rasulullah, dan ENGKAU sudikan kami beriring dengan pencinta-MU memasuki tempat abadi terindah.. syurga" Amiin.

Jumat
10:37 PM
(Sembari mendownload data untuk buku Dompet Dhuafa di gempa dahsyat Sumbar 2009 yang akan diterbitkan bulan Mei nanti... Uph.. mudahkanlah ya Allah) -ini buku perdana yang benar-benar akan kususun. Terimakasih Luvly Job.. Dompet Dhuafa..

Dilema semakin meraksasa. Fathul Islam Definda, sudah 4 bulan lebih 4 hari usianya. Sudah bisa menelungkup. Celoteh tak jelasnya makin banyak :) hobi mandinya juga masih tak berubah. Dari umur sehari, sudah suka sangat dengan air.

Ritual mandi bak agenda yang paling ditunggu. Entah apa yang menarik? sensasi berendam di air hangatkah? atau bunyi kecipak air yang berasal dari kaki yang tak bisa diam? atau... sentuhan bunda atau ayah ketika memberi sabun/shampo?

Akhir-akhir ini, lebih sering ayah yang memandikan Fathul. Bunda semakin sibuk... Siapin sarapan pagi, nyuci baju yang tinggi tumpukknya aduhai, bersihin ini itu. Hmmm... bunda saja yang masih belum bisa mengatur waktu-waktunya dengan baik.

Oya, baru kemarin dapet cerita kalau ternyata setiap bayi HARUS melewati setiap step pertumbuhannya, jika tidak maka akan terjadi hal tak beres pada pertumbuhan yang akan datang.

Jadi harus miring dulu baru nelungkup, harus merangkak dulu baru duduk, dan seterusnya...

Mmm... satu lagi tingkah lucunya, kalo lagi ngisi bensin, tiba-tiba berenti. Menatap bundanya. Tersenyum-senyum dan berceloteh. Eh, baru akan ngisi bensin lagi kalo sudah dicium :)

Anak kecil, ada-ada saja :) oya, kalo lagi ngisi bensin anak itu, caranya posisikan dengan baik dan benar, berikan sentuhan saat dia sedang 'ngisi bensin' belai kepala, punggung atau lainnya. Tatap selalu matanya. Dan mulai komunikasi. Hal ini akan menambah kedekatan hati. Dan satu hal lagi yang paling penting adalah senantiasa menjaga kondisi hati ketika berdekatan dengannya.

Ingat! kita sedang melakukan pendidikan kepada buah hati. :)

ruang tengah,
ngantuk
wasalam

Selasa, 26 Maret 2013

Fathul itu...

Bismillah
Selalu.. dengan menyebut nama-MU ya Rabb
Minggu, 24 Maret 2013
04:59 WIB

“Allah.. sungguh tidak akan terjadi sesuatu yang meletihkan jika diri sadar sebenarnya engkau telah memberikan kekuatan luar biasa pada seorang manusia ini. Tapi terkadang kami lebih sering lalai memaknai tiap jenak pesanMU.”

Fathul Islam Definda, itu namanya, 3,5 bulan lebih dua hari. Laki-laki ketiga yang hadir dalam ikatan darah amat dekat denganku. Tentu ketiganya memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri dalam diri. Abak, tenang dan pemikiran-pemikirannya yang jauh ke depan. Kak akbar yang cool namun perhatian. Dan.. Fathul ini… karakternya yang akan begitu berdekatan denganku dan akan bergantung pada caraku membersamainya.

Nak… Bunda tentu tak sempurna. Tapi terus senantiasa berusaha. Memberikan dan menyajikan pendidikan kebaikan padamu. Penjagaan hati bunda selama mengurus dan berdekatan denganmu, meski kadang begitu letih untuk senantiasa mengganti popok dan memperhatikan pola pemberian ASI padamu. Apalagi kalau kamu sudah menangis dengan kekuatan suara yang luar biasa.

Hmmm.. Apalagi waktu batuk menyerang, menjelang 3 bulanmu. Semua panic, sedih, cari cara ini itu untukmu supaya segera sembuh. Padahal, sebenarnya tak perlu sekebakaranjenggot itu, Bund abaca, kata dokter juga, batuk itu biasa bagi anak-anak seusiamu. Tapi tetap saja, ayah dan bunda jadi bertindak lebih ekstra.

Kini, gerak badanmu sudah gelisah. Miring-miring. Cepatlah menelungkup dan merayap, berjalan untuk kemudian berlari.  BIsa ikut ayah main bola deh..
Ah.. Nak, kehadiranmu memberikan perubahan-perubahan yang lebih dari biasa. Terimakasih ya Rabb..
(di samping Fathul, ba’da berhasil menidurkannya yang sedari pukul setengah tiga tadi bermain)

Selasa, 19 Maret 2013

Rindu....

 “Wisma lebih hidup waktu kepemimpinan kakak… Rindu kakak… “

Pesan itu kuterima di tengah menumpuknya tugas2 kantor. Tiba-tiba saja. Dikirim orang yang tak disangka-sangka.

Rasa ingin menangis. Dan menarik si pemberi pesan, kemudian memeluknya. Dan membisikkan..
“Kakak tak seindah itu, Dinda..”

Bergetar kemudian kutemui huruf-huruf untuk lalu meluahkan. Meluahkan.. Ya Rabb Aku rindu
Allah… Aku merindu kuat-kuat yang dulu itu. Kerajinan menemuiMU di sepertiga malam. Hafalan-hafalan surat cintaMU yang begitu menenangkan. Kelarutan dalam membaca bait-bait sejarah lelaki penggenggam hujan itu, beserta para sahabat-sahabatnya yang begitu memukau.

Kemudian kesendirian dalam perenungan-perenungan, bukan memikirkan diri sendiri. Tapi berpikir tentang mencintai orang lain… mencintainya dan menginginkannya untuk bergenggam tangan menuju janji-NYA
Ah, aku rindu. Sungguh, kesibukan telah membuatku tenggelam. Padahal banyak makna yang Engkau sengaja hadirkan untukku kembali. Rabb… aku ingin hangat itu. Kumohon..

… terimakasih pesannya T_T

Kamis, 07 Februari 2013

Naluri Ibu dan 2 Bulanmu

Kamis, 07 Februari 2013
20:39
Di tengah hujan yang mengguyur sejak pagi.. diiring lagu Pilot

Hari yang ba’da subuhnya diawali dengan guncangan lindu 5,6 SR berpusat di Pesisir Selatan. Alhamdulillah, setidaknya hari ini agak lebih berkarya dari hari kemarin (karena deadline halaman kemandirian.. Haha) Dasar!! Klo gag DL gag gerak.

Nak, besok genap dua bulan usiamu.. Complicated?oh.. tentu saja iya :D

Kau ajarkan bunda banyak hal, tiba-tiba saja.. bunda sudah pandai mengganti baju dan popokmu, dengan indah memasang bedongmu, sudah biasa saja bangun malam berkali-kali untuk ngisi ‘bensinmu ‘, tiba-tiba saja hilang rasa jijik pada ee’ dan pipis (ingat dulu kalo sepupu yg bayi ee’ langsung bergidik ngeri dan kabooooorrrr) ah... naluri ibu sudah dipaksa datang kini. Dan aku begitu riang. Begitu menikmati mencintaimu..

Sepenuh-penuh doa bunda untukmu, “ Ya Rabb... jaga jagoan keduaku ini, beri dia kekuatan untuk berperang dengan ‘gila’ dunia kelak, dan memenanginya...” T_T

Nak Sayang Bunda... umur segini, orang-orang antusias melihat perkembangan tubuhmu. Setiap bertemu, ekspresi gemas dan dari mulut mereka lansung meluncur kata-kata, “gendutnya lagiiiiii,,,,,” usai mendengar informasi dari bunda bahwa usiamu belum dua bulan.

Kau tau bagaimana rasa mendengarnya, Nak? Sungguh Bunda senang... Berhasil membuatmu berkembang sedemikian rupa, walaupun tertepar-tepar karena ‘bensinmu’ seakan selalu habis dalam sekejap dan harus segera diisi kembali :’) sehingga sering membuat orang tekagum-kagum dengan tinggi isi piring Bunda –kata orang anak laki-laki memang seperti itu.
O, iya... Ifa anak Umi Tazkiyah dan Abi Orka umurnya sudah 3 bulan tapi nampaknya besaran badanmu, Nak... haha..

Dan yang juga sering buat bunda, ayah dan nenek tertawa lepas adalah suara sendawa dan kentutmu yang luar biasa besarnya. “Haaa... sudah sama suaranya seperti kentut tiiiiittttt.... (sensor)” malu nanti Ayah kita dibilang2 di sini (nah loh.. itu kok dibilang)

Kemudian wajah kakumu.. kalau diajak bercanda, seakan-akan berkata “Apaan sih. Garing deh.. ga lucu” Padahal orang2 sudah full ekspresi, kek orang ‘gila’ Cuma begitu gayamu atau gaya kerut kening dengan tatapan mata heran.

Haha...
Sungguh begitu mahal senyummu sayang... Tapi kata orang lagi... laki2 tak apa2 pelit senyum. Heheh

Lalu....
Ceracau tak jelas dari bibir mungilmu yang katanya warisan dari ayah. Trus teriak-teriak kecil seakan protes mengapa Bunda tidak mengerti dengan apa maksudmu...
Sayang.. Kau tau... semua itu terasa begitu terasa pada jiwa Bunda.


Puji Syukur padaMU ya Rabb.. atas hadirnya T_T
Masih hujan lebat..
21:54