Tak lama, gerimis menderas kembali. Dalam hening di antara lima bapak-bapak yang khusyuk, aku juga tak kalah khusyuk dibanding mereka. Derapan langkah setengah berlari berhenti tepat di belakangku. Dua pasang kaki. Terkaku. Sekarang, kukira mereka lagi mengibas-ngibaskan apa saja yang basah, bunyi tepuk-tepuk tangan yang beradu dengan jeans atau sejenisnya, tas mungkin. Mata masih kupautkan pada tali kail di permukaan sungai.
Orang di belakangku bercakap. Makin menguatkan terkaanku kalau mereka dua orang saja. Dialog mereka makin memanas ^_^ (lebay…)
Maklum. Sosok berdua itu saja yang berbicara. Bapak-bapak di sekitarku sesekali saja menoleh. Seakan ingin mengatakan, “Hei, diam!! Tak tahu kau kalau aku sedang mancing?! Bisa lari semua ikan di sini mendengar celoteh tak berkualitas (baca penuh tekanan-pen) kalian!” (ini aku yang buat-buat karena tentu saja aku tak punya kekuatan supranatural membaca apa yang mau dikatakan orang lain-pen).
Topik yang dibicarakan mereka Sinta, Merisa, cewek matre. Alah….. siapa sih! Sambil megerutkan kening. Aku mencuri lihat sedikit ke belakang. Dalam hitungan detik, kepala sudah pada posisi semula. Anak kuliahan sepertinya, yang… tunggu!! Aku menoleh sekali lagi. Rambutnya???? Bukankah dia laki-laki??? Ho..ho..
Lokasi memancing ini memang dekat dengan lokasi kampus. Sebuah universitas swasta yang dulunya begitu ternama, seindah nama salah satu pahlawan asal Sumatera Barat. Namun belakangan memang turun pamor, yah… jadi ajang nampang. Stiles mahasiswanya aduhai… beda sekali dengan mahasiswa kampusku yang lugu-lugu (^_^ peace) Aduh.. kemana ni pembahasannya
Ok. Kita mulai.
Sebenarnya ini memang bukan pertama aku melihat laki-laki yang direbonding. Bukan pula kali pertama aku mendengar percakapan ‘sengit’ tentang wanita dari mulut para laki-laki. Hanya saja penemuan kali ini membuat aku ingin menuliskannya.
Rambut lurus sebatas ketiak itu dipotong gaya. Tak begitu jelas apa modelnya. Yang pasti, menurutnya itu gaul. Belum lagi topik percakapannya, selama hampir satu jam mereka berada di tempat itu, tak ada topik lain (jangan berpikir kalau aku menyimak utuh percakapan itu).
Potret remeh dari beberapa gelintir mahasiswa. Tentu saja masih banyak yang berprestasi, ingat saja baru-baru ini mahasiswa IPB dan Unibraw yang menjuarai ajang kompetisi pangan tingkat internasional di Amerika Serikat. Banyak juga prestasi-prestasi lainnya.
Namun di sisi lain lagi tidak kita pungkiri kalau hedonis memang sudah memberati jiwa-jiwa pemuda. Yang laki-laki kesenangannya perempuan, yang perempuan kesenangannya shoping, kemewahan-kemewahan juga laki-laki.
Kalau menurutku mengenali otak dan karakter seseorang itu bukanlah merupakan hal yang begitu sulit. Dari penampilan kita melakukan pengenalan yang paling sederhana. Topik perbincangan yang dia sukai/yang membuatnya antusias, draft lagu-lagu yang sering dia dengarkan, kalau ke toko buku rak mana yang paling lama dia berhenti?



