Bismillah
Jumat, 5 Juni 2015
Perpustakaan Lt.4
Hhhh...... lepas sekali rasanya. Sampai juga perjuangan ini pada toga kedua. Bukan hanya perjuangan saya, anak-anak, suami, orangtua, bahkan mertua, ibunda. Yang telah begitu sabar bolak-balik Solok-Padang di setiap minggunya. Tentu bukan soal mudah bagi tubuhnya yang tak lagi muda. Ya Rabbi... sungguh nikmat mana yang sanggup hamba dustakan. Engkau karuniai hamba ibu yang begitu penyabar dan penyayang. Bantuan yang selalu diberikan tanpa sempat aku memintanya.
Masih segar diingatan ketika aku pulang dengan mata sembab. Ba'da kuliah. "Kenapa? Bertengkar dengan abang?" (oh.. amak.. sungguh... anakmu itu adalah sesabar-sabar manusia, mana pernah dia mempertengkariku). Aku menggeleng. "Terus kenapa? Ada masalah di kampus?". Air mata yang sebelumnya telah tumpah dalam perjalanan pulang kampus, tumpah kembali. "Teman winda sudah acc seminar proposal, mak. Winda bahagia, bahagia sekali," ujarku. Kata-kata yang meluncur dari mulutku langsung disambut dengan senyum dan mata berkaca.
"Winda kerjakanlah tesis winda, anak-anak biar mak. Masuk kamar. Nanti kalau Ra id mau ASI, mak panggil. Bawalah buku-buku ke dalam semuanya. Pokoknya keluar kalau perlu saja. Fathul, Ra id biar mak yang urus."
Bayangkan. Apa gerangan yang membuat beliau mengeluarkan kata-kata sedemikian rupa? Apa yang membuat beliau sedemikian cepat menangkap titik mana yang kugelisahkan? Ya Rabbi... fabi ayyi aalaaaa irobbikumma tukadziban. Betapa indahnya ini. Pergi pagi pulang menjelang magribku. Beliau sabar. Sabar sekali. Sama sekali tak mengeluhkan ini itu. Padahal aku tentu saja sangat tahu bahwa menjaga anak-anak seharian itu sangat memberatkan. Apalagi mereka yang keduanya masih begitu butuh pengasuhan maksimal. Aku tahu mak letih. Setiap kali merasa bersalah, beliau selalu dengan semangat menanyakan perkembangan tesis. Kalau aku mengucap salam dengan riang karena mendapat progress berarti, beliau adalah sosok yang akan menyambut dengan tawa dan kata-kata, "Kalau kerja keras Allah pasti memberi jalan."
Kalau aku mengucap salam dengan lemah, membuka pintu dengan lesu, beliau akan mengatakan bahwa untuk mencapai sesuatu itu butuh perjuangan dan jangan pernah menyerah. Maka selalu ada energi baru ketika membuka pintu rumah kami. Lari-lari kecil Fathul, ciumnya pada tanganku, dan gelak ceria Ra id.
"Bunda asih keja, Nda," kata Fathul nongol dari pintu kamar. Aku tersenyum. Fathul duduk. Kucium dia. Dia tertawa. Seringkali, Fathul menjadi penolong (bagi Fathul :D) "Uda, mau bantu, Nda". Pernah setengah 3 pagi dia terbangun mendengar mesin printer berbunyi di ruang tengah. Menyusulku. "Nda, bia Uda bantu, Nda," T_T Fabi ayyi aalaaaa irobbikuma tukadziban.
Atas doa-doa Mamak Bak disana yang tak pernah putus, atas doa-doa Bapak Emak, atas semua pengorbanan, sabar dan cinta Ayah Fathul, atas semua polah Fathul dan dede' yang mengurangi segala lelah... Ini untuk kalian.
Ya Rabb... jadikanlah aku yang tak pernah putus bagi orangtuaku. Jadikan aku istri soleha, ibu terbaik dan manusia yang paling banyak bermanfaat. Aamiin.
--
Rabu, 03 Februari 2016
Lampiasan Amarah adalah Selalu Merugikan
Bismillah, Ba'da tahmid wa shalawat
Rasulullah...
adalah seindah-indah manusia
Se'anggun-anggun' akhlak adalah miliknya nan begitu menawan. Seringkali, menemui beliau dalam berbagai ayat di Al Quran dan berbagai kisah, saya tergugu. Bagaimana bisa? Menarik nafas dan menahan sesak. Bagaimana bisa? Menangis. Bagaimana bisa?
Dialah sebaik-baik manusia itu. Yang muka masamnya saja ditegur oleh Allah. Saking tiadanya akhlak, selain akhlak baik darinya. Muka masam seolah adalah tingkatan kekeliruan paling 'parah' bagi beliau. Sampai satu surah pun turun untuk mengoreksinya.
Lalu saya? Muka masam itu mungkin adalah tingkatan paling, paling, paling rendah dari kesalahan akhlak saya. Lantas bagaimana yang paling parahnya?
Ya Rabbi.. berikan kekuatan untuk senantiasa meresapkan dan memaknai pesan yang Engkau sampaikan lewat gerik dan diam kekasih-MU tercinta.
Banyak orang mengatakan kalau orang yang jarang marah itu, atau sering menahan amarah itu bak menyimpan api dalam sekam. Suatu ketika jika meledak maka akan berkobar seberkobar-berkobarnya. Jadi lebih baik dilampiaskan saja satu per satu. Saya turut mengamininya.
Ah, salah besar ternyata.
karena bagi seorang muslim, menahan amarah adalah bagian dari keimanannya kepada Allah dan Rasulullah. Tak ada api dalam sekam bagi mereka. Seperti dalam QS Imran 133-134, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk roang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".
Menahan marah adalah kebajikan. Jika karena Allah, maka amarah yang ditahan itu sama sekali tak akan menjadi api dalam sekam. Karena hatinya tulus memaafkan, ikhlas merelakan.
Rasulullah juga pernah mengatakan, "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tapi adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah". Lagi. "jangan marah, bagimu syurga."
Pernah pula..
Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.
Melihat hal ini, Abu Bakar tersadar dan bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"
Rasulullah menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT."
Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan denganmu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya. Menangislah Abu Bakar.
Sungguh.. apapun, lampiasan kemarahan yang disampaikan dengan marah adalah kerugian.
Rasulullah...
adalah seindah-indah manusia
Se'anggun-anggun' akhlak adalah miliknya nan begitu menawan. Seringkali, menemui beliau dalam berbagai ayat di Al Quran dan berbagai kisah, saya tergugu. Bagaimana bisa? Menarik nafas dan menahan sesak. Bagaimana bisa? Menangis. Bagaimana bisa?
Dialah sebaik-baik manusia itu. Yang muka masamnya saja ditegur oleh Allah. Saking tiadanya akhlak, selain akhlak baik darinya. Muka masam seolah adalah tingkatan kekeliruan paling 'parah' bagi beliau. Sampai satu surah pun turun untuk mengoreksinya.
Lalu saya? Muka masam itu mungkin adalah tingkatan paling, paling, paling rendah dari kesalahan akhlak saya. Lantas bagaimana yang paling parahnya?
Ya Rabbi.. berikan kekuatan untuk senantiasa meresapkan dan memaknai pesan yang Engkau sampaikan lewat gerik dan diam kekasih-MU tercinta.
Banyak orang mengatakan kalau orang yang jarang marah itu, atau sering menahan amarah itu bak menyimpan api dalam sekam. Suatu ketika jika meledak maka akan berkobar seberkobar-berkobarnya. Jadi lebih baik dilampiaskan saja satu per satu. Saya turut mengamininya.
Ah, salah besar ternyata.
karena bagi seorang muslim, menahan amarah adalah bagian dari keimanannya kepada Allah dan Rasulullah. Tak ada api dalam sekam bagi mereka. Seperti dalam QS Imran 133-134, "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk roang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".
Menahan marah adalah kebajikan. Jika karena Allah, maka amarah yang ditahan itu sama sekali tak akan menjadi api dalam sekam. Karena hatinya tulus memaafkan, ikhlas merelakan.
Rasulullah juga pernah mengatakan, "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tapi adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah". Lagi. "jangan marah, bagimu syurga."
Pernah pula..
Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum.
Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.
Melihat hal ini, Abu Bakar tersadar dan bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah engkau biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!"
Rasulullah menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnaan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT."
Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan denganmu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya. Menangislah Abu Bakar.
Sungguh.. apapun, lampiasan kemarahan yang disampaikan dengan marah adalah kerugian.
Sabtu, 29 November 2014
Teruntuk... Belahan Jiwa
Kamis, 19 November 2014
Mulai Kembali... menuju 27 tahun.. memberlalu 26 tahun
26 tahun yang lalu, takdir membawaku ke dunia. Usai dengan tunduk berjanji kepada Tuhan akan hidup, mati, rezeki dan jodoh. 23 tahun kemudian aku mantap menjalankan proses taaruf denganmu. Yang aku masih tak tahu, apakah benar-benar namamu yang ada dalam janjiku jelang masuk ke janin 120 hari dalam perut ibu.
Sampai pada 12 Februari 2012. Usai kau ambil tanggungjawab atasku dari tangan lelaki terbaikku, ayah. Dan ternyata... benarlah... dirimu yang dimaksud dalam lauh mahfudz itu.
Kini.. Bagiku... semakin berkurang usia adalah semakin belajar dan memaknai bahwa syurgaku pada ridhamu. Hal yang kurasa dua tahun yang lalu sebegitu mudahnya. Karena sedikit pun aku tak pernah merasa kesal, apalagi marah padamu. Cuma 'ngambek-ngambek' biasa yang sengaja dilakukan untuk menarik perhatianmu :D Namun semakin bertambah usia pernikahan kita, aku justru semakin labil. Semakin memusingkan ini itu. Semakin merasa semua salah. Semakin sering merasa bahwa aku tak mampu melakukan semuanya dengan sempurna. Rumah. Anak-anak. Semua keperluanmu. Yang berakhir dengan diamku. Pertanda bahwa aku sedang rusuh. Oh.. Allah...
Aku takut sabarmu hilang. Aku takut mungkin kau akan lelah. Aku takut kau tak lagi membujuk. Tapi sungguh jiwa ini terasa begitu sulit untuk diatur. Semua pekerjaan yang tidak dapat kuselesaikan dengan baik sedemikian menyiksanya. Termasuk tesis. Apalagi itu. Kuliahku serasa semakin menyusahkanmu dan anak-anak. Abang... tadi pagi dalam perjalanan ke kampus... Air mata bercucuran. Mengingat akan semua 'lalai'ku padamu. Semua ketidakinginmengertianku akan apa adanya dirimu.
Abang.. selamanya engkaulah anugerah terindah. Kumohon bantumu atas segala bengkokku. Imam... sungguh cita-cita tertinggiku adalah ingin tetap ingin bersamamu dan anak-anak kelak di syurga. Ajari aku. Jangan letih. Jangan pernah lelah. Sebaik-baik doa untukmu selalu... selalu.. selalu..
Resolusi 2014
26 tahun sudah
banyak yang sia-sia
banyak yang terlalaikan
maafkan bunda, Yah...
Ampuni hamba ya ALLAH
Waktunya untuk menjadi istri yang lebih baik lagi, menjadi ibu yang lebih indah lagi, menjadi anak yang tambah berbakti.
Jumat, 29 Agustus 2014
Menyambut Buah Hati
Hanya berbagi, semoga kita menjadi ibu terindah bagi anak-anak kita :)
Bagi saya, melahirkan normal adalah impian. Meskipun sekian banyak dokter dan bidan menyangsikan, saya tetap ingin berusaha. "Bukankah tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki".
"Jika ibu ingin juga normal ga papa dicoba, cuma saya juga harus memaparkan resikonya," tutur Dokter sembari menjelaskan sederet kemungkinan buruk.
"Kalau lebih setengah jam ngeden, ga juga lahir anaknya, harus dioperasi," tutupnya.
Adik sepupu Abang yang bidan juga berkali-kali mengatakan, “Uni, jangan keras juga hati Uni untuk normal, jarak kehamilan Uni itu terlalu dekat.”
Belum lagi kata ‘senior-senior’ yang sudah pengalaman memiliki anak rapat dan SC. Rata-rata anak kedua SC semua.
Namun.. bersama si Ayah, kami tetap teguh. Kekuatan doa dan kata-katanya yang menenangkan cukup menjadi kekuatan bagi saya untuk tetap memutuskan mencoba melahirkan normal. Ingin benar saya merasakan apa yang ibu saya dan ibu mertua saya rasakan saat melahirkan kami. Ketika diujung telepon Mak mengatakan, “Ndak.. ndak ada susah-susah Mamak melahirkan kalian, Alhamdulillah mudah semua.”
‘Mudah’ yang kemudian Allah akan kabulkan untuk saya merasakannya.
Pagi 17 Juni, sakitnya sudah semakin sering. Meski ragu, aku mengatakan kepada si ayah sebelum berangkat kerja. Siap-siap aja yah.. Sakitnya sudah semakin sering."
Tanda-tanda akan lahirnya bayi biasanya berbeda-beda... Ada yg keluar air banyak, yang sama sekali tidak bisa ditahan, ada yang keluar darah bercampur lendir selama beberapa hari. Saya termasuk yang kedua, jadi darah bercampur lendir sudah keluar sejak Jumat, enam hari sebelum hari H.
Siangnya, sakit semakin sering.. BBM dengan adik sepupu abang yang bidan akhirnya membuat kami memutuskan untuk ke rumah sakit siang itu juga. Sayang, sesampai di rumah sakit.. Setelah diperiksa.. Bidan RS tidak menemukan adanya bukaan. "Belum ada bukaan," katanya santai. "Jadi gimana, Bu?" Kata si Ayah.. "Ga papa, pulang aja dulu," katanya.
Di mobil sakitnya semakin sering lagi. "Apa ga salah bidan tadi ya," ujarku. Sampai di rumah.. Tidak jua hilang sakitnya. Seorang teman di ODOJ yang berpengalaman secar BBM menanyakan keadaan... Hihi.. Banyak sekali yang menanyakan keadaan saat itu. Bukannya fokus dg rasa sakit.. Aku masih terus mencari informasi. Katanya, dia memiliki tiga anak.. Sakitnya ada.. Tapi tak pernah ada bukaan, jadi ketiganya SC. Yang satu lagi juga mengatakan seperti itu. "Udah ga ketulungan sakitnya, ga juga ada bukaan mba," katanya menjelaskan.
Hmm… sementara adik sepupu terkejut ketika kami kabarkan disuruh pulang. “Beresiko.” Kecemasan yang kami tenangkan dengan mengatakan, “OK.. kami akan ke rumah sakit,”Walau waktunya tak saat itu juga :D
Terhitung sakit di bawah perut itu sudah sekali lima menit. Hingga jam setengah 12 malam tak kunjung berhenti. Teman-teman di Grup ODOJ seluruhnya mendoakan… Agar saya bisa lahiran normal. Hiks… terharu. (doa yang ternyata kelak diijabah oleh Allah)
Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban. Mempertemukanku dengan orang-orang yang mencintai Quran, mencintai ukhuwah.
Tepat pukul 12 malam, saya mengatakan sudah tak tahan lagi kepada Si Ayah. Terserahlah, kalaupun nanti tetap taka da bukaan, tunggu saja di rumah sakit. Tas siaga langsung dibawa, Fathul yang sedang pulas digendong dan terpaksa mengganggu Mama (tempat tetangga yang biasa menjaga Fathul kalau saya pergi). Fathul dititipkan. Di mobil, sakit tetap tak henti. Ya Rabbi…
Sesampai di RS Ibnu Sina Gunung Pangilun Padang, masuk UGD, diperiksa. BUKAAN TIGA JELANG EMPAT. Allah… nikmat-Mu yang mana yang mampu hamba dustakan?? T_T“Karena malam, bawa istirahat aja dulu ya, Nda. Kalau siang tidak apa dibawa jalan,” kata bidan muda itu dengan senyum ramah. Dia langsung memanggil nama saya dengan akrab.Waktu itu Piala Dunia sedang berlangsung, jadwal pertandingan Brazil lawan apa saya lupa. Si Ayah yang memang sudah sejak siang merencanakan mau nonton saya suruh nonton aja di luar.
“Bunda ndak papa ditinggal?”
“Ndak papa?” kataku sambil tersenyum.
Ah… kurang apa lagi sosok ini, sungguh pria sabar luar biasa yang dikirimkan untuk senantiasa ada bersama saya.
Babak pertama usai, Si Ayah balik ke kamar tempat saya istirahat. Saat saya suruh kembali lagi untuk lanjut nonton, dia tidak mau. “Di sini aja, Bund,” katanya dengan tatapan iba karena sakitku semakin menjadi. Dzikir yang tadinya lemah kini mulai bersuara. Sakit sekali. Sampai kuhitung jarak sakitnya sudah 3 menit sekali. Saya sudah tidak tahan lagi. Bidan dipanggil.
BUKAAN 7. Dokter ditelepon. Peralatan persalinan dipersiapkan. “Setengah jam tidak juga melahirkan setelah bukaan lengkap, harus operasi.” Kalimat itu selalu terngiang.
Ya Rabbi.. sakit semakin menjadi. Pegangan erat Si Ayah semakin keras. “Jangan bersuara ya, Nda. Nanti tenaganya habis,” kata bidan yang masih mempersiapkan peralatan.
“Istigfar Bund, Sabar Bund,” berulang Si Ayah menuntun untuk terus menguatkan.
Ya Rabbi..
Hingga sampai saya pada rasa sakit luar bisa, yang teringat adalah dosa. “Yah… Banyak dosa Bunda Yah… maafkan Bunda Yah,”
“Eh.. ngomong apa… dzikir aja terus.. dzikir,” jawab Si Ayah.
Sungguh sakit yang luar biasa sampai kemudian terlintas, mungkin itu akhir hidup saya. “Ya Allah.. hamba tidak sanggup lagi,”
Itulah kenapa kemudian ketika sang Ibu meninggal saat melahirkan, maka syahidlah dia. Tapi tahukah? Sunggu godaan keimanan begitu besar ketika merasakan sakit luar biasa. Sampai saya tertumbuk pada tulisan Al Baqarah ayat 45 yang berada di dinding
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´, ( Surat Al Baqarah Ayat 45)
Yang lanjutan surat itu adalah
Yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhan-Nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya..
Ketenangan menyelusup, hamba serahkan semua pada kuasa-MU ya Rabb. Mudahkanlah rasa sakit ini bagi hamba. Dan kelak.. jadikan anak-anak yang lahir dari Rahim hamba anak yang sholeh/sholeha.
Dokter datang, bukaan
lengkap. Tiga kali ‘ngeden’ saja, Raid Raqilla (pemimpin yang selalu berbuat
baik) lahir ke dunia. Saya melihat ada telaga di mata si Ayah. Kecupan di kening
dan tangan yang tak pernah lepas itu begitu terasa luar biasa. “Alhamdulillah,
normal Bunda,,”
Maka nikmat-MU yang manakah yang mampu hamba dustakan. Puji Syukur ya Rabbi. Atas kelahirannya. Bayi mungil dengan berat 3,1 kg. Dengan rambut lebat. Mata sipit. Dan jari jemari yang panjang. 04.17 WIB. Semoga menjadi kebanggan dunia akhirat karena ketakwaannya kepada Allah, kemulian akhlaknya, kekuatan dan kekokohannya dalam menjalani tantangan hidup dunia.
Meski Dokter dan para bidan sedang menjahit robekan yang katanya sebanyak 8 jahitan luar dalam. Meski sakitnya luar biasa. Tapi sudah ada si dedek yang IMD (ini sangat penting karena ASI pertama yang katanya disebut kolostrum itu juga merupakan imunisasi alami baginya). Tahnik dengan kurma. Kemudian adzankan. Karena dia laki-laki.Dua buah hati kita sayang. Jagoan kita.
Sepenuh-penuh doa untuk semua kebaikannya. Semoga kita dapat menjadi orangtua yang sukses mendidik mereka.
Catatan.
Setidaknya, isi tas siaga
Kain sarung perempuan 4 bh, baju bayi 6 bh, popok 6 bh, bedong 6 bh, sarung tangan dan sarung kaki baby, topi baby, stagen 3 bh, pembalut herba (beli sama kak yosi ;), celana dalam 6 bh, bra 4 bh, baju berkancing 3 bh, perlengkapan mandi + sisir, ikat rambut, jilbab instan 3 bh, kaos kaki, tisu basah, tisu kering, bedak+handbody bunda :D, kain panjang (gendongan), selimut baby, kurma tahnik.
-) Usahakan IMD ya.. (komunikasikan dengan suami agar menyampaikannya pada dokter atau bidan jika mereka lupa/tidak menganggap itu penting)
-) Habis lahiran normal, lebih kurang 6 jam, jika ada luka jahitan, bersihkan sebersih-bersihnya, jangan takut perih, busakan sabun. Pastikan wilayah jahitan benar-benar bersih. Mulai bergerak, tapi tetap dibasahi.
Kata orang kampung cebok dengan kerak nasi/air hangat kuku rebusan asam kandis.Makan dijaga, untuk amannya cukup konsumsi sayur, tempe/tahu/ikan, buah.
-) Biasanya yang menyusui pertama kali akan demam dan sakit pada payudara (ada juga yang tidak-pen), tapi tidak masalah, itu normal. Sabar ya... :) Jika puting tidak keluar, pilin dengan halus (ke arah luar) agar nantinya baby mudah untuk mendapatkan asi. Sebenarnya pada masa kehamilan pembersihan puting juga sudah harus dilakukan.
-) cukur anak pada waktu yang disunnahkan kemudian sedekah dengan nilai perak
Selamat menanti buah hati....
"Semoga kita menjadi ibu terindah bagi mereka :)"
Selasa, 01 April 2014
Karena Respon Baik, Semuanya Bisa Menjadi Baik
Selasa, 1 April 2013
Bismillah..
Bada
tahmid wa shalawat..
Ingin
mengaktifkan kembali menulis d waktu-waktu senggang. Hari ini baru saja
mengalami beberapa kejadian 'baik'.. Bukankah stiap kejadian netral? Dan yg
menjadikannya positif atau negatif adalah respon kita?
Ya.. Saya
mencoba untuk meresponnya dengan baik.. Maka jadilah kejadian-kejadian itu
kejadian penuh hikmah. Pagi, saya menitikkan air mata karena Fathul yg entah
mengapa begitu manjanya.. Rewel.. Mau dipangku saja, sambil dia berusaha
kembali untuk tidurr. Sementara mata yg baru sempat terpejam 2 jam tadi..
Letih.. Begitu juga dg raga. Menahan.. Sambil melihat jarum jam yg trus melaju
ke pukul 7.
Makannya
sudah siapp, tapi dibilangnya tak enak. "Nak.. Bunda mau pergi
kuliah," kata saya disusul dg bulir bening yg mulai mengalir dari mata.
Allah---
beri saya sabar berlipat, kasih berkubik-kubik..
Tugas
UTS saya belum selesai.
Sampai
d kampus, tempat fotokopian samping pasca penuh. Riuh. Di antaranya, banyak
teman sekelas yg sibuk nge-print, jilid, dkk.
Lirih
saya katakan pada salah satu di antara mereka "Makalah saya belum selesai"
Apa
daya.. Sampai d kelas.. Ketua kelas mengabarkan pesan dari sang dosen.
"Bapak tdk bisa masuk pagi ini" katanya.
Ya
Rabbii.. Lagi2, tolerir terhadap kelalaian hambaMU yg hina ini :'( saya malu..
Jadwalnya
mengumpulkan tugas pada Prof 'terangker' d kalangan mahasiswa. Sengaja saya
membawa tugas 1, untuk ditanyakan kesalahannya. Mengingat komentar tertulis
dari beliau masih menimbulkan tanda tanya bagi saya, nilai yang tertera juga
cukup menyedihkan. Jadi saya pikir tak apa memperjelas kebenaran dari beliau...
Saya ingin dengar langsung ada masalah berat apa dengan tugas saya itu..
Awalnya
semua baik-baik saja, namun dalam hitungan menit beliau berang. "Pokoknya
tugas Anda sudah saya baca! Anda tidak ikhlas dengan nilai Anda! Kalau tidak
ikhlas itu,tunggulah bencana, saya kurangin nilai Anda nanti!" Begitulah
kira-kira redaksinya dan saya diusir keluar dengan keras. Di akhir kata
"Permisi, Pak" dari saya, saya sempat menelisik ke matanya yang
mendelik. Satu detik.
Menyampaikan
luka di mata saya atas reaksi beliau yang saya rasa berlebihan. Sungguh dari
dulu, nilai bukanlah segalanya bagi saya.. Namun jika merasakan bahwa saya
tidak mendapatkan setimpal dengan usaha keras saya, tentu saya akan bertanya. Untuk
kemudian mendapatkan jelas. Dan bagi saya, dalam kejadian ini pun, saya
mendapatkan jelas atas tugas saya. Saya tidak kecewa atas nilai saya dan apapun
yang akan beliau lsayakan dengan nilai saya, cuma ada perih yang seketika
timbul, orang yang selama ini saya banggakan, saya kagumi, saya ceritakan
'keguruan'nya kepada semua orang...
Saya
tertegun atas reaksinya..
Allah---
jika ada banyak salah atas sikap seorang murid ini kepada seorang guru, maka
susupkanlah ketenangan dalam hati guru hamba tadi.. Atas kejadian tadi... Namun
jika ada benar pada diri hamba, maka hamba mohon jadikan perenungan bagi kami.
"Maafkan
saya, Pak..." yang belum sempat terucap...
"Ampuni
hamba ya Rabb.. "
Sabtu, 04 Januari 2014
Sederhana...
Cinta kita sederhana... antara ikhlas dalam tiap pengorbanan, sabar akan semua ujian dan syukur atas segala kebaikan... #SyukurDiImamimu
Ajari dan Izinkan Kami Menggenggamnya..
Pada akhirnya.. diri tak akan berani merasa bahwa diri ini siapa? Setinggi apapun.. sesukses apapun... Maka yang terbaik adalah segumpal darah... kita sebenarnya sudah temukan, tapi mungkin masih ragu bagaimana menggenggamnya..
Langganan:
Postingan (Atom)

