Rabu, 22 Juni 2011
Bukan Inginku Membunuh dengan Panah Beracun
Jay menjelaskan kronologis aksi pembunuhan yang dilakukannya terhadap Herman, kepala tukang pada proyek pembangunan SMP 4 Padang tempatnya bekerja. Pembunuhan itu dilakukannya hanya untuk mempertahankan haknya. Dia mengatakan, upah yang tidak sepadan dengan kerjanya itu membuat dia putus komunikasi dengan istri dan empat anaknya di Sunda.
“Saya hanya mau menagih hak saya pak hakim. Upah yang diberikan tidak sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Saya sudah berkali-kali mengalah, tapi dia tidak mengerti dan memakan hak kami, para buruh bangunan,” ujar Jay di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Sapta Diharja beranggotakan Zulkifli dan Kamijon.
Dikatakannya, dia sama sekali tidak berniat memebunuh bosnya itu. Namun, karena kepenatan atas haknya yang diabaikan dia hilang akal. Bayangkan saja, upah yang seharusnya dia terima Rp5 juta hanya diberikan Rp750 ribu. Itupun harus dibaginya bersama lima tukang lainnya. Padahal, pekerjaan sudah hampir selesai, tinggal pemasangan keramik lantai sekolah. Sampai dalam tahap kerja tersebut, dia bersama tukang lainnya sudah banyak berutang untuk biaya hidup selama di Padang.
"Setelah berkali-kali menanyakan perihal upah tersebut, Herman sempat mengabulkan. Kami diberi uang Rp1,6 juta. Meski jauh dari harapan, saya hanya berusaha sabar, mungkin memang segitulah rejeki saya," katanya.
Masih berusaha membesarkan hatinya, Herman tiba-tiba saja meminta kembali uang tersebut dengan alasan terlalu banyak . Pasca itulah emosinya memuncak. Beberapa temannya yang berasal dari Mentawai pun sempat marah.
Emosi yang tak terbendung membuat Jay kalap dan menancapkan anak panah yang diperolehnya dari teman yang berasal dari Mentawai. Dia sama sekali tidak tahu kalau ternyata anak panah tersebut mengandung racun mematikan.
"Saya baru tahu dua hari kemudian bahwa Herman meninggal," terangnya tenang.
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ade Vita SH, Jay diancam hukum pidana pasal 351 Ayat 3 KUHP tentang pembunuhan. Sidang selanjutnya akan digelar minggu depan dengan agenda tuntutan JPU.
Peneliti Damkar tak Tahu Kualifikasi
“Saya hanya ditunjuk oleh Bambang Hermanto selaku Pengguna Anggaran untuk menndatangani penerimaan mobil damkar 18 Oktober 2010, padahal waktu itu mobil damkar itu endiri belum ada,” ucap Bakri di hadapan persidangan yang diketuai oleh Hakim Asmuddin beranggotakan Sapta Diharja dan Hakim adhock tipikor Emira Fitriani.
Sementara itu, Rafi Usman mengatakan kalau dia sempat dipanggil Darwis, Kasi Pol PP yang ketika itu berlaku sebagai Panitia Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), untuk menandatangani surat tanda terima barang.
“Saat itu saya sempat menolak karena pada kenyataannya mobil damkar itu belum ada, kok saya disuruh tanda tangan bukti penerimaan barang,” ujarnya.
Namun, satu jam berselang, dia kembali dipanggil keluar oleh Darwis. Kali ini, Darwis menghadirkan Rudi Hartono selaku pihak CV Buana karya, pemenang tender. Karena Rudi Hartono berjanji akan segera mengantarkan mobil tersebut ke Dharmasraya dan meminta perwakilan panitia untuk turut serta menjemput mobil damkar ke Jakarta, Rafi setuju. Tiga panitia akhirnya berembuk dan memutuskan Bakri lah yang akan berangkat. Sayang, hingga akhir tahun 2010 janji Rudi Hartono tak jua ditepati. Bakri tak pernah diajak untuk berangkat ke Jakarta untuk mengambil mobil damkar tersebut.
“Diketahui kemudian, mobil damkar itu datang sudah sangat terlambat dari kontrak 90 hari, yakni Januari tahun 2011,” terangnya.
Saksi lainnya yang didatangkan Jaksa pPenuntut Umum (JPU), Rasmi Nofriadi, Kuasa Bendahara Umum mengakui bahwa dana pengadaan damkar ini cair dalam dua tahap. Pencairan dana 30% di bulan Agustus sebesar 209 juta ditandatangani oleh Bambang Hermanto, sedangkan untuk pencairan dana tahap kedua 100% senilai 488 juta 26 ribu ditandatangani oleh Afrizal sebagai Plt. Bambang Hermanto.
Sementara itu, Kepala Dinas PU, Junaidi Yunus hadir sebagai orang yang membantu keempat terdakwa mendatangkan mobil damkar tersebut tahun 2011.
“Saya dimintai tolong untuk membantu percepatan datangnya damkar tersebut ke darmasraya karena memang saya kenal dekat dengan PT Bukaka. Saya kemudian membantu berkomunikasi dengan pihak PT Bukaka. Keesokan harinya, mobil tersebut langsung diantar ke Dharmasraya,” katanya.
Ketiga terdakwa, Bambang Hermanto, Afrizal, dan Darwis memberikan uang senilai 30 juta, ditambah pula dengan BPKB Afrizal. "Esok paginya mereka juga langsung setor uang lagi ke PT Bukaka," terangnya di
Dalam persidangan yang berbeda, terdakwa kasus yang sama Rudi Hartono, CV Buana Karya, mendengarkan keterangan yang tak jauh berbeda dari keempat saksi keempat terdakwa sebelumnya. Sidang akan kembali dilanjutkan Senin (4/7), masih mendengarkan kesaksian dari saksi yang didatangkan oleh JPU.
Judi Dadu Kuncang
Diketahui dari dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Ernawati, keempat terdakwa ini ditangkap aparat kepolisian di kedai kopi di Jalan Parak Rumbio Kelurahan Lolong Balanti Kecamatan Padang Utara, Senin (4/4) lalu, sekitar pukul 15.30 Wib. Ketika itu mereka sedang bermain judi dadu kuncang.
Sebelumnya, saksi aparat kepolisian polsekta padang Roni Saputra dan Budi Saputra sudah mendapat informasi dari masyarakat sekitar. Mereka sedang bermain judi jenis dadu kuncang dengan taruhan uang yang mereka letakkan di atas meja.
Saat penangkapan, aparat kepolisian mengamankan satu set dadu kuncang, gelas keramik, meja tulis dan uang tunai Rp31 ribu. Barang-barang dan uang tersebut kemudian disita untuk dijadikan barang bukti.
Dalam dakwaan, perbuatan para terdakwa diancam pidana Pasal 303 ayat 1 KUHP. Persidangan yang ditangani oleh Majelis Hakim Asma, beranggotakan Fitrizal Yanto dan Zulkifli ini akan dilanjutkan Rabu (28/7), dengan agenda tuntutan JPU.
Minggu, 05 Juni 2011
Perpustakaan ajaib
Senin, 6 Juni 2011
Bismillah…
Selalu dengan menyebut nama-MU ya Allah.
Pagi yang bersemangat. Ya, saya sudah banyak rencana hari ini, kepuasan tersendiri jika kesemuanya mampu terlaksana. Semoga begitu juga senantiasa orang yang telah menyempatkan mata menelusuri huruf-huruf yang ada dalam blog saya n_n
Begini, saya baru saja menuntaskan novel berjudul Perpustakaan Ajaib Bibby Bokken karya Jostein Gaarder, penulis buku best seller Dunia Shophie. Bukunya kali ini bercerita tentang orang-orang yang mencintai buku. Usai membacanya, adrenalin membaca saya menjadi sangat terpicu. Saya juga kemudian menyadari kenapa saya merasa bahagia setelah berputar-putar di perpustakaan atau toko buku, meski hanya untuk membaca punggungnya. Di sana dikatakan kalau saya ternyata termasuk dalam orang-orang yang mencintai buku (maksa.com)
Tokoh utama novel ini adalah dua anak kecil berusia belasan tahun bernama Nils dan Berit. Memiliki keberanian, suka menulis, setelah menjalani libur bersama mereka akhirnya memutuskan untuk membuat buku surat yang mereka tulis bersama, buku yang kemudian mereka kirimkan dari kota yang berbeda tempat mereka tinggal masing-masing. Di dalamnya mereka akan saling berbalas cerita terkait apa yang mereka alami dan yang menjadi titik pentingnya adalah perihal penyidikan mereka terhadap seorang perempuan tua bernama Bibby Bokken. Dan ternyata mereka sengaja difokuskan untuk membuat sebuah buku yang akan lounching ketika tahun buku berlangsung di Norwegia, satu tahun yang akan datang. Alur cerita yang mereka buat di surat sengaja di sett oleh Bibby Bokken dan kawan-kawan. Pencinta buku dan bibliographer terkemuka.
Ah, ternyata kemampuan saya menceritakannya secara detail tak begitu baik. Baca sendiri. Mudah-mudahan bisa menemukan sense yang saya dapatkan, atau malah lebih.
Berikut kutipan yang menurut saya bernyawa
“pada dasarnya, suatu kebohongan sangat mudah dikenali. Sedangkan mengatakan kebenaran tidak selalu mudah karena sering kali ia memiliki banyak sisi. Karena itu, kebenaran tidak bisa diungkapkan segampang membalik telapak tangan.” (228)
“seberapa banyak aku membaca seumur hidupku, aku tak akan pernah mampu membaca sepermiliar dari seluruh kalimat yang tertuliskan. Sebab, di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang di langit sana. Dan, kalimat-kalimat akan selalu bertambah dan akan menjadi semakin banyak sepanjang waktu laksana sebuah ruang yang tak pernah berujung.” (229)
Wassalam
Senin, 09 Mei 2011
persembahan...
BISMILLAH…
Kepada cinta yang selalu mengalir dalam aliran darah, yang membuatku insyaallah menjadi satu dari sedikit orang yang bertahan. Semuanya karena MU ya Allah
Allah muara dari segala perjalanan ini.
Rasulullah, suri tauladan sepanjang zaman.
AlQuran, pedoman hidup dunia akhirat.
Kepada Mamak yang tiba-tiba datang mengejutkanku dan membawa kabar yang ternyata lebih mengejutkan lagi. Menyadarkanku kalau aku punya tanggung jawab besar atas semua ini. Sungguh ini juga bagian dari cinta yang berujung. Mamak, bak, si cerewet Tia dan kakakku tersayang kak akbar (hanya aku dan Allah yang tahu seberapa besar rasaku akanmu) begitu mendambakan perekumpulan kembali kelak di syurga. Izinkanlah keluarga hamba di dunia ini juga menjadi keluarga hamba di syurga kelak ya Allah. Amiin ya Rabb…
Kak Tab, sumber inspirasi hidup dan kegigihan . Kak To (jadi tak susah mengingat hari pernikahanmu yang dicocokkan dengan hari wisudaku :-)), Rel si bungsu yang bagiku tetap saja bungsu, walaupun mati-matian kau mngatakan “Abang!” aku lebih tua darimu”
Ade, merah… menyaksikanmu menjadi ‘ikhwan’ :-) setelah pertama du;lu kau mengucapkan, “Gak mau ikut organisasi Yuk, bosen.” eh malah jadi aktivis juga.
Ayuk pertama… Yeyen (Tazkiyatun Nafs) syukran atas sentuhanmu pada qalbu ini.
Kepada merapi dan pekikan takbir ketika aku menjejak puncaknya. Bau gunung yang mengembang…
Kepada laut bungus yang hijau, yang selalu menjadi pendamai saatku mulai jenuh, letih dengan semua rutinitas yang ada.
Alamanda 3. Ibu kedua, syukran jazakillah for all bunda…
Penghuni kamar eksekusi dari masa ke masa, “Siapa yang ingin menjadi hakim?” Kata itu terlontar dalam isak tangis yang begitu pilu. Bukankah tidak ada kata menolak amanah itu dalam kamus kita? Tetap, kalian telah dipilih untuk sedikit lebih peduli dari yang lain.
Terkhusus Nila, Riri, Fera Zora, Refi, Rina, Yusra, Tiwi, Isis, Ani, Kak Siska, Kak Reni, , Kak Mira, Onank Vera. Kak Aisy, Kak Yatul, Rika, Hani, Tuti, Rini, Hilda, Rica, Ririn (semangat Qib!!) Anda, Emi, Iklil, Debi, Neni, Titi, Ayu, Meici, Listi, Windi, Ami ndut :-) Rona, Habibah, Aisyah.
Angkatan muda Silvia Sherly (cepat smebuh ya dek), Iti, Hasanah, Marwah, Meri, Gina, Tika, Yola, Ami, Rozi.
Di sini kita pernah bertemu… (lanjutkan sendiri…)
Ganto. Semua angkatan sejak Bang Ad/Bang Romi, Kak Ce/Bg Dika, Kak Titi, Abi, terkhusus untuk sahabat-sahabat seperjuangan Della, Ulfi, Sonya, Mita, Kak Tia, Kak Tuti, Kak Oci, Kak Angie, Yasman, Bang Hafiz, Bang Taufik.
Adikku Ulvina Hafiza, Rara, Riri, Joni Irfan, Salim, Ibes, Afdhal, Sari, Santi, Pri, Iin.
Angkatan termuda Dedi, Ninit, Nova, Tari, Yudi, Wahyu, Fitri, Yesi, dkk.
Seperti yang pernah aku ucapkan di Mubes Internal 1 periode yang lalu, “Ganto memberikan warna yang berbeda dalam hidupku,”
Aku mencintai jurnalistik dengan sangat..
KAMMI. Tempatku ‘lahir dan tumbuh dewasa’, sejak pertama kali memekik takbir di BLPT Lubuk Lintah, 1 Desember 2006
Kita dibesarkan dalam lumpur kekecewaan, jadi kata kecewa itu tidaklah pantas lagi kita ucapkan saatnya bekerja dengan kegigihan. Sampai rahmat-NYA senantiasa menaungi UNP, Sumbar, Indonesia, Dunia, sehingga sampailah Islam menjadi ustadziah alam, Allahu akbar! Allahu Akbar!
Jika hanya ada satu yang bertahan di jalan ini maka itu adalah aku, itu kata kita. Kazix Ira, Wati, Wira, Tika, Era, Zana, Cece, Wisnu, Nispu, Indra. Melalui hari-hari penuh ide ‘gila’ bersama kalian ternyata begitu indah. Semoga kita tergolong orang-orang yang saling mencintai karena-NYA.
Semua penghuni rumah KAMMI, satu mimpi yang terwujud. Kemudian Najwan, Dessy, Deni, Epi, Nisa, Ningsih, Vera, Vely, Irma, Jannah. Rumah ceria… Mentawai… FLP…
Semua kawan-kawan RB 2006, Veni, Zarti (pertemuan pertama ketika Ti mengenakan baju krida ungu dan kata kunci satu lagi ‘WC’ :D samo lo kiro wak kalua dari siko) Nobi, Tini (capek nyusul).
Sampai tahap ini, Fabiayyi aala irobbikuma tukadziban…. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan. Semoga Allah menjadikan karya ini salah satu dari akan sekian banyak karya besarku kelak. Amiin.
Salam,
Winda Noprina
Really Job
Kamis, 5 Mei 2011
Majalah bersampul dominasi hitam dan merah itu dihamparkan padaku. Integrito, membangun negeri tanpa korupsi, bacaku dalam hati. Sementara tangan kanan reflex mengawainya.
“Yakin mau di hukum dan kriminal?” ujar sosok bersahaja itu.
Angguk kuatku menyambut.
Paras itu tersenyum sambil sedikit menggeleng.
“Suka tantangan?”
“Sangat,” jawabku.
“OK. Senin turun.”
Kawan!! Ini baru minggu ketigaku. Katanya sekitar 3 bulanan baru bisa di posko. 2 minggu yang memang penuh hentakan, ku-drass semua.
Allah.. Doaku. “Beradakan aku pada profesi yang membuatku makin dekat denganmu karena tiada yang paling tinggi bagiku selain ridha-Mu, beradakan aku pada posisi dimana aku bisa full meluruhkan semua energi dan kemampuanku untuk berjuang di atas kebenaran, di jalan-MU.”
Rasa Uang....
Hmm… sebenarnya kalau saya pikir, hanya orang-orang yang berpikiran sempitlah yang akan berlaku demikian ketika bertemu dengan orang yang menurutnya ‘spesies’ baru. Belum terbuka menerima perbedaan dan menganggap hanya ialah yang tercatat baik.
Entah sudah berapa berita yang kubuat, kadang menyenangkan, kadang juga membuat debar-debar tak enak di dalam dada. Oalah… ini masa pemanasan, orientasi, baru saja masuk pagar dan ruang tamu. Teringat aku pada seputaran pukul 14.30 kemarin. Sampai sekarang rasa uang yang tertempel di tanganku saat berjabat dengan ketua panitia itu masih mengganjal.
“Latak agak halaman depan stek yo..” katanya.
Saya pasi. “Apa ini, maaf…” kataku sambil menampik selembaran uang yang diselipkan di tanganku.
“Tidak..tidak..” kataku berkali-kali dengan tangan gemetar dan mungkin wajah sudah begitu pasi. Teringat aku uang yang tinggal 2ribu lagi di Eiger hitamku. Melayang juga ke motor yang masih di tempat titipan karena tiba-tiba bocor di perjalanan ke tempat ini tadi.
“Mambana… ambo ndak nio.”
Dengan wajah menyesal paras-paras itu akhirnya mengalah.. “Terimakasih.. saya pamit,” ujarku gagu.
Kulayangkan sms ke salah satu senior, saya tak mau lagi liputan acara…
Sampai di kantor, saya hanya mendapat senyum dan rasionalisasi dari kejadian yang baru saja saya alami.
“Ketika kamu tak ambil itu, maka kamu justru memberi mereka peluang untuk korupsi, setiap acara itu kan ada dana publikasinya.”
Nah… Nah…
“Kamu akan bedakan nanti kalau bertemu ‘uang panas’. Biasa itu.. Pandailah untuk berlaku.”
“Kalau tak yakin juga untuk memakan unagnya, ambil saja dulu. Terus.. sedekahkan saja,” lanjutnya setelah melihatku masih terpaku, tak puas dengan penjelasannya.