Kamis, 27 Mei 2010

LANJUTAN... Diary PL...

Baru bisa dipost sekarang, sudah sangat lama mendekam di dalam diary merah butut, yang sudah tak bisa dipegang sembarangan, karena dia akan dengan tanpa rasa bersalah berlarian kemana-kemana. Sudah payah benar hidupnya, terang saja... hanya ke satu tempat yang dia tidak kubawa...

Bersabarlah... :)

Selasa (27 April 2010)

10:08 WIB

Di sisi ini, aku benar-benar tidak merelakannya.

M... Ha..., hmm...

Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu. Rohis! Itu salah satu jalannya.

Dia anak baik, cerdas, responsif.

Aku sesak, buliran bening sudah menyesak di sudut-sudut mataku, hembusan nafas panjang pun belum bisa menentramkan.

Hari ini hari perpisahan kelas XII SMA ini, ah... banyak yang tak berguna. Aku sungguh sangat tak betah lagi berlama-lama di gedung ini. Kepala sudah berdenyut tak karuan. Pada dasarnya memang agak tidak suka keramaian yang memekakkan... Dia meliuk-liukkan tubuhnya, aku menunduk... menggigit bibir. Guru-gurunya malah bertepuk tangan, begitu pula teman-teman sebayanya. Sorak sorai meriuhkan ruangan berkapasitas 200 orang itu.

Entahlah...

Kali ini aku sangat ingin bercerita banyak hal dengannya.

Dia tak salah dengan segala kekurangannya itu, butuh sentuhan. Hati seorang guru, seorang yang mampu mengarahkan semua potensinya. Terlalu banyak mutiara di sinii tapi semuanya berbalur lumpur yang tebal, dalam dan mengeras. Begitu sulit mengeluarkan mereka... dan kutahu, kebanyakan guru di sini sudah menyerah..

Sabtu, 22 Mei 2010

Angkot bagi Akhwat 

http://www.google.co.id/imglanding?q=angkutan%20kota&imgurl=http://dimskipedia.files.wordpress.com/2009/08/angkot-pdgxa2.jpg&imgrefurl

Mata itu liar mencari tempat yang pas, tepat ketika kaki kirinya menginjak dek angkutan kota. Akh, 3 detik kemudian dia sudah duduk di sebelah seorang laki-laki 30-an. Itu tempat yang paling nyaman, kalau mengambil bangku 4, maka dia akan diapit oleh dua laki-laki malah.

Sebagian besar akhwat yang tidak memiliki alat transportasi pribadi mau tidak mau akan terjebak dalam kondisi seperti ini. Ketika harus duduk sangat dekat dengan laki-laki nonmuhrim. Apalagi kalau sopirnya kejam dan tak mau mengerti wajah memelas sang akhwat agar tidak disuruh geser terlalu mepet guna menambah penumpang. Tuntutan dan keharusan untuk menaiki angkutan umum ini tentu saja membuat kita makin cerdas berpikir. Bagaimana menanggulangi kondisi-kondisi yang terdesak dan tak nyaman.

Belum lagi ketika memberikan ongkos ke sopir atau kernet. Dilempar saja tentu tak sopan, harus benar-benar mengatur posisi uang, meminimalisir kemungkinan tersentuh oleh sang kernet atau sopir. Ironis sekali, sementara ketika di luar sana (di luar di dalam angkot) mereka begitu ketat menjaga, jarak 1 meter dari nonmuhrim saja merupakan jarak yang tidak membuat diri nyaman.

Trik jitu
  1. Jelikan mata untuk mencari posisi strategis, meminimalisir kemungkinan duduk bersebelahan dengan lawan jenis (mesti sangat sangat cerdas, karena sopir angkot itu akan jingkrak-jingkrak jika kamu terlalu lama bermenung, menganalisis apalagi dengan teori  untuk memilih tempat duduk yang paling strategis)
  2. Saya pikir tidak apa-apa sedikit memaksa untuk duduk di antara 2 wanita. Biar aman.
  3. Siapkan uang ongkos, lipat atau lebih bagus dikembangkan utuh, maka jarak antara tangan kita dengan tangan sopir/kernet angkot yang akan mengambil uang cukup jauh
  4. Waspadai penumpang yang baru masuk. Antisipasi agar ia tak seenaknya duduk di sampingmu
  5. Jadikan tas ransel atau sandangmu sebagi hijab, geser sedikit untuk membuat jarak dengan laki-laki di angkot.

Finishing, in my favorite room “ruang shalat” didampingi oleh si kecil Najwan, yang hmm... semoga cepat dewasa ya dek....
21:25 WIB
Jumat, 21 Mei 2010

Selasa, 18 Mei 2010

Kamar Eksekusi

Kamar ini adalah salah satu kamar di antara 16 Kamar yang ada. Di sini, tempat orang-orang menguras pikiran, sesekali menekan dada yang terasa sesak, menghela nafas panjang, menangis, dan lalu tersenyum bahagia, memahami kalau ini jalan mereka. Bersama. Yang telah dipilihkan-NYA khusus untuk mereka. Tiada, tak pernah dan tak akan pernah mereka sesali ketika mereka dituding tak adil, dikatakan otoriter, dikatakan keras, semua akan menanggapi dengan gaya yang berbeda.
“Kita memang harus menyiapkan satu folder khusus untuk kita dibenci orang,” tutur salah satu dari mereka.
Semua menunduk, dan lirih berkata, “ya,”.
Ini adalah tarbiyah dahsyat bagi mereka, ketika mata-mata lain asyik dengan tidurnya, fokus dengan tugas-tugas kuliahnya, atau malah bersantai ria diiringi nasyid-nasyid. Mereka justru berada di sini, merenda hati, mendewasakan hidup dan kemudian menyusunnya menjadi suatu yang begitu bermakna. Selalu bertahan, bahwa semua ini hanya mereka lakukan untuk-NYA.

Alhamdulillah,,,
Ketika hatimu penat. Akhwat, yakinlah engkau adalah pilihan ALLAH, pilihan-NYA untuk mengemban amanah yang tidak ringan dan tidak pula sembarang orang yang dikenakan telunjuk-NYA.
Di awal Detik kita berada di sini.... kita semua akan memulai kebahagiaan itu. Bersiaplah untuk melesat lebih cepat dari pejuang-pejuang ALLAH yang lain. Ketika mereka tertidur, matamu justru harus jalang menjaga mereka, ketika mereka lelah putus asa kau harus sedia membangkitkan kembali ghirahnya pun ketika itu kau merasa letih yang sangat. Kau akan membuat dia merasakan bahwa kau selalu sedia di sampingnya, selalu ada untuk sekedar pendengar atau turun menjamah dan menyelesaikan masalahnya. Semua berawal berat tapi lama-kelamaan antunna akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah kebahagiaan yang tiada terkira.

akhwat, bersiaplah.... antunna akan dikaruniai kesabaran yang jauh lebih jauh dari yang dulu antunna miliki. Ketika pulang dan mendapati kondisi yang amburadul, antunna mungkin hanya akan menghela nafas dan mencoba membereskan semuanya. Ketika anti baru datang dengan nafas tersengal-sengal dan jangan terkejut jika langsung ditarik ke sebuah kamar dan mendapatkan aduan pilu. Atau bahkan kecaman dan tuntutan. Itu biasa.... tetaplah bersabar.... karena ALLAH bersamamu, ALLAH mencintaimu...
teruslah resapi ketika antunna tersenyum ketika saudara-saudara sudah banyak yang membudayakan puasa sunnah. Fajar telah ramai dengan tahajud, dan lantunan lembut Al Quran.

akhwat.....
antunna adalah wanita pilihan .....

Ketika melihat masih ada saja saudara yang melakukan pelanggaran, tidak memakai kaus kaki, nonton film sia-sia, nyanyi-nyanyi jahiliah berserta berpuluh pelanggaran lainnya, sakitlah, sedihlah tapi janga n sakiti mereka. Sentuhlah saudara dengan perkataan yang lembut dan cara yang akhsan. Dan jangan sekali-kali menegur mereka dalam keadaan marah.

Jangan sekali-kali pula menetapkan sebuah keputusan ketika hati sedang bergejolak penuh emosi. Tetaplah bertahan dengan ketenangan dan kesabaran, seemosi apa pun orang yang sedang anti hadapi. Ingat!! Kau adalah wanita yang kuat, wanita hebat!!

Hari ini, sudah merangkak jauh dari detik awal itu, jika antunna toleh ke belakang antunna justru akan tersenyum, karena dia sudah begitu jauh... sementara di depan juga tak terlihat ujung dari perjalanan ini J tapi dengan izinNYA itu pasti. Kemenangan itu akan datang. Itu adalah janji. Janji-NYA!! HARAPAN ITU SELALU ADA!

Minggu, 16 Mei 2010

Ainul Mardhiah




Ainul Mardiah, rasanya nama itu begitu dekat. Sering Jie dengar, tapi dimana? Jie mengingat-ingat anak-anak kampusnya, Ainul Mardiah? Ainul Addina adanya, Endang Mardiah, Ainul Huda. Dia kemudian menanyakan ke beberapa teman, ya, ada ternyata anak LRAI. Tapi dia teringat satu hal, rasanya nama itu pernah dia baca, tulisannya, o..oo… di sebuah buku, Jie ingat kalau pernah membaca, ya… kalau tidak salah, Ainul Mardhiah merupakan bidadari syurga yang begitu cantik jelita, tercantik di antara bidadari-bidadari syurga yang lainnya. Yang dipersiapkan hanya untuk para mujahid.
Jie tersenyum… kurang yakin… dengan kebiasaan yang tidak biasa jika tidak menggunakan referensi, Jie mengetiknya di mesin pencari Google. Yups! Ingatannya tak terlalu parah ternyata. Benar. Sedikitnya, itulah tentang Ainul Mardiah.
Namun… ada yang membuat Jie lebih tercenung lagi…
Ternyata Jie sama sekali tak banyak referensi tentang sahabiyah.. sahabiyah yang dia ingat agak di luar kepala ya.. Khansa, Fatimah, dan sedikit lebih banyak tentang khadijah dan Aisyah. Hm… Zainab Al Ghazali di masa Hasan Al Banna. Oh… Allah. Dia baru menyadari… hmm… aku lebih suka membaca kisah-kisah sahabat-sahabat Rasulullah, kekagumanku akan Umar sangat luar biasa, Khalid bin Walid, Abu Bakar, tokoh idola bagi Jie memang ketiga orang ini. Si sorban merah yang tak terlalu tenar juga.
Memang tak ada yang salah dari kesukaan membaca kisah sahabat-sahabat Rasulullah yang luar biasa itu. Namun, kenapa Jie bisa luput menauladani sosok-sosok perempuan luar biasa yang juga begitu membantu dakwah Rasulullah meski tidak dengan hunusan pedang.
Mungkin ada yang mengalami hal serupa dengan yang dialami tokoh Jie ini. Sekian lama memutuskan sebagai muslimah, dengan berjilbab rapi, bergabung di organisasi keislaman, dengan jam terbang tinggi, ngisi materi ini dan itu, instrukutur ini dan itu, namun justru terlupa dengan satu hal yang sebenarnya begitu penting. Proses menuju muslimah sejati itu tak hanya dengan belajar dari pengalaman, dari lika-liku kehidupan, atau hanya melalui membaca Fiqih Wanita, kita juga butuh referensi sosok-sosok luar biasa, yang menginspirasi, membelajarkan banyak hal tentang sejatinya seorang wanita.


Kamar sempit yang alhamdulillah tidak banyak nyamuk seperti kamar Soe Hok Gie
Syukran sudah mengingatkan tentang Ainul Mardhiah 
Padang, 16 Mei 2010
00:46 WIB

Selasa, 20 April 2010

Tukang Kacang Menjelang Siang

Wangi kacang rebus memenuhi angkat merah yang kutumpangi. Sendal Jepit merah yang mengalas kakinya nampak kumal, kuku-kukunya pun hitam ada banyak selipan kotoran di masing-masing ujungnya. Hm… dia sudah tak sempat untuk memperhatikan kakinya. Bnayak agenda yang lebih penting mendesak. Kematian yang terus mengancam di tiap harinya. Kala menjual kacang rebus menjadi sau-satunya jalan mengganjal perut dengan tukaran uang yang kemudia dibelikan beras ala kadarnya. Beras paling murah saja.

Sesekali, batuk menggoncang tubuh tua itu, aku ingin berbuat sesuatu tapi ah,,, aku tak punya banyak lengan, aku tak punya lembaran lebih hari ini, untuk sedikit memberikannya kesenangan, dengan membeli kacang rebusnya barang sedikit, aku pun tak punya banyak waktu untuk memasuki dunia sang tua itu. Sekedar membuatkan feature hidupnya… dan kembali untuk menyerahkan honor yang tak seberapa.

“Kiri” suara parau itu keluar dari mulutnya, disambut dengan batuk-batuk kembali. Terhuyung dia keluar angkot, dijunujungnya kacang rebus yang beratnya aku tak bisa memperkirakan berapa.

“Kacang…..” :’(

Selasa, 23 Maret 2010

Rayap-Rayap …


Teriris miris ketika tubuh itu masih saja dalam pelukan selimut tebalnya, sementara suara adzan dan keras bunyi imam di masjid yang hanya selang 3 rumah dari sini terus melantun. Ah, tak terdengarkah olehnya? Masih aku coba untuk berpikir positif, mungkin dia sedang ‘tidak shalat’. Kutanya seseorang yang langsung beranjak berusaha membangunkan sosok itu. “Shalat,” ujarnya mengangguk padaku. Kulihat ulang, masih saja, ia meringkuk. Ini bukan yang pertama kali tapi sudah berkali-kali…
ALLAH, siang dia begitu semangat pergi rapat ini dan rapat itu. Siang dia begitu gencar menyusun dan melaksakan yang katanya agenda-agenda dakwah. Apa-apaan ini? Jangankan Qiyammul lail, subuh saja terlambat… Jangankan al matsurat mengaji saja entah… shalat wajib lainnya pun.. Oh… ALLAH… Hanya isighfar yang akhirnya terlontar berulang. Sudah, sudah aku ingatkan. Di beberapa kesempatan, tabayun langsung pun iya. Tapi masih saja..
Mungkin kita banyak menemui model aktivis seperti ini di sekitar kita, di dekat kita. Sangat membuat gamang, apalagi sebenarnya estafet akan terus berlanjut. Sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan jika harus disambut oleh diri-diri semacam ini.
Kutambahkan kasus lagi, beberapa waktu terakhir seseorang terpaksa dikeluarkan dari rumah karena keaktivisannya memang benar-benar tak bisa dipertanggungjawabkan lagi. Kalau berbicara kapasitasnya di organisasi, memang tak usah diragukan lagi, BEM ini dan BEM itu, organisasi intra maupun ekstra kampus. Tapi sayang itu justru menjadi ladang kehancuran baginya. Kata-kata yang terlontar dari lisannya… memang sudah banyak berubah, lebih berwawasan tapi tetap tidak ber-ruh… Interaksinya dengan lawan jenis…
Dalam suatu kesempatan dia meminta agar kita sama-sama mendoakan agar calon pimpinan organisasi mahasiswa yang kita usung menang, beginilah kurang lebih ujarnya, “Kita mesti sama-sama berdoa untuk kemenangan si anu, karena kalau tidak, tak ada lagi organisasi mahasiswa yang dipegang oleh sahabat-sahabat kita, yang akan memenangkan dakwah ini,” ujarnya berapi-api dengan gaya khas orator.
Seorang sahabat menanggapi, dengan sendu dia mengatakan, “Sebenarnya kekalahan demi kekalahan yang kita terima saat ini membuat kita mestinya introspeksi diri, wajar saja ALLAH tidak memberikan kemenangan itu kepada kita jika pengusung-pengusung ‘dakwah’ itu sendiri berpenyakit, hubungan dengan Allah bermasalah begitu juga dengan hubungan dengan manusia, terutama lawan jenis.”
Beberapa saaat kami terpekur. Merenungi kata demi kata yang baru saja terlontar. Sadis. Tapi emang itulah kenyataannya. Aku menjadi teringat, sehabis mengikuti sebuah latihan kepemimpinan seorang sahabat mengatakan, “Kata-kata yang paling berkesan bagi ana, aktivis dakwah yang berani satu malam saja tidak Qiyammul lail adalah rayap-rayap dakwah, menjadi parasit bagi dakwah itu sendiri”.
Begitu mengancamnya aktivis model-model ini di dalam perjuangan menegakkan kalimatullah di muka bumi. Mari kita renungi untuk diri sendiri, saling mengingatkan dengan yang lain demi menjaga, menjaga kesucian jalan yang telah kita pilih ini. Wawlahua’alam.


Kamis, 18 Maret 2010

LANJUTAN... Diary PL...

Kamis, 4 Maret 2010

Hari pertama masuk without Bu Syahri. Kumantapkan. Sebenarnya memang tidak begitu berpersiapan. Karena sebelumnya memang belum ada kabar miring di X1 ini. Beda dan X3 yang sudah terkenal dengan bla..bla…bla-nya. Kulangkahkan kaki ke kelas sejurus runag TU, X1. Ketika aku masuk, kelas masih dalam keadaan semrawut. Meja, kursi, beberapa gumpalan kertas, dan oh ALLAH… Suara…
Kukatupkan mulutku, mencoba mempelajari suasana. Namun… Hmm… Mereka memang lumayan beringas. Memukul-mukul meja dengan kaki kursi yang mungkin juga sudah lebih dulu menjadi korban ‘keganasan’ mereka.
Sulit sekali untuk mendiamkannya. Padahal aku sudah mulai angkat suara. Ada banyak Dodi di sini, dan ketiganya itu  sama ‘unik’nya… Satu lagi Dodi Rahayu, lumayan diam sepertinya. Tapi, acuh…
Ho..ho.. Aulia, dia anak tinggal (sebutan bagi anak yang tak naik kelas)
Entahlah… Aku jadi tak kreatif sekali. Sesak. ALLAH… Mereka harus aku apakan lagi? Aku diam kembali, menatap mereka satu per satu.
Kondisi seperti itu, guru kelas sebelah datang. Hmm.. dengan semburan kata-kata yang membuat mereka lumayan diam. Tapi dia… Aulia.. Cari masalah saja dengan orang lain. Agus… dia sudah lumayan tenang. Tapi.. dua orang tidur. Kucoba tanya. Mereka… tidur lagi. SPEKTAKULER sekali..
Pasca X1, di Ruang Majelis Guru. Beberapa guru bertanya. Aku hanya tersenyum. Rupanya, Ibu yang masuk sejenak tadi sudah menceritakan pada guru-guru yang lain. Bu Ret mencoba memberikan motivasi. “Syukran Bu,” ujarku 
Tidak apa-apa…
Awal yang ‘terserah anda’ mau menilainya seperti apa…

Selasa, 9 Maret 2010

Full Class for this day
Ketika di X5, jam ke 5-6 (10:30-11:50) kukirim sms ke Ade, sepupuku. Kemarin sempat cerita-cerita sedikit tentang anak-anak. Sepertinya nyambung kalau ku send kan sms macam ini ke hp-nya
Ayuk mulai berpikir kalau mereka ini mestinya dimasukkan ke sekolah inklusi, Untuk anak-anak berkebutuhan khusus :-) Semakin hari, mereka bertambah unik saja :”)
Uh…,Mana strategi pertama yang kau tawarkan dulu Jie????
Jangan menyerah.. jangan menyeraaaaah… kulantunkan sedikit lirik D’Masiv itu

Kamis, 11 Maret 2010
19:38

Masih dalam posisi berpikir keras untuk menaklukan anak-anak itu. Minggu ini menjadi minggu yang tidak begitu menyenangkan bagiku. Apalagi bagi mereka. Hmm… tak cukup dengan hanya sekali transfer energi positif ke mereka. Ya, tak akan semudah membalikkan telapak tangan. Tak seperti orang Yahudi yang sudah dibentuki main set dari kecil kalau mereka orang-orang cerdas, anak-anak Bungus ini lahir dari kehidupan pantai yang keras. Mungkin hanya sedikit di antara mereka yang dibesarkan di tengah keluarga yang ‘agak’ sedikit beretika. Allahualam, ana memang belum observasi langsung dari kegiatan sehari-hari penduduk di sana. Baru dari hipotesis awal lewat diskusi-diskusi dengan guru-guru, kepsek dan melihat cara belajar anak ketika di kelas.
Ups, jadi inget lagi kata-kata seorang guru yang menyebutkan kalau mereka itu setan semua. Sadis.
Dan sampai kini aku bertekad tak akan mengamini itu. Ketika aku sedikit mengutarakan kesedihan melihat kondisi mereka ke Pamong, beliau hanya tersenyum getir. “Tidak usah dipikirkan kali, Winda. Bisa stress nanti… Yang penting, kamu ajarkan materi kepada mereka. Sampaikan itu semaksimal mungkin. Sudah, itu sudah cukup”. Mereka ini, lanjutnya, sudah susah untuk diubah..
Ah… terbayang olehku, guru-guru yang memiliki ghirah mendidik dan komitmen ketika awal masuk ke sekolah ini. Apalagi mereka yang baru-baru keluar dari universitas. Keinginan mendidik yang dibawa, semangat yang membara bisa jadi turun karena letih, lelah, kecewa melihat SDM yang ada di sini. Sampai akhirnya memutuskan untuk menjalankan kewajiban seadanya saja. Aura mendidik hilang. Berganti dengan asal lepas tanggung jawab saja. Materi diberikan dan lah… selesai.
Tak sengaja terlibat diskusi kecil, lewat short massage service

Anak-anak Bungus itu kebanyakan anak-anak pantai. Melaut, nelayan. Cenderung keras dan nakal. Nikmati saja, InsyaALLAH akan ada hikmahnya…

Tapi saya tak ingin nasib mereka hanya berakhir di nelayan itu.

Mustahil seorang guru bidang studi apalagi hanya guru PL.. bisa melakukan itu. Sistem pendidikan itu yang sudah tak beres.. jadi rubah sistemnya dulu.

Hmm… selalu seperti itu. Sistem yang salah! Kapan lagi mengubah sistem yang salah itu supaya jadi benar. Saya coba pandangi lagi target saya untuk mereka 3 bulan ke depan. Akan BISA. Optimis!! InsyaALLAH. Kalau tidak! saya akan kembali lagi ke sana, suatu saat.

He..he.. ini sebuah integral besar pendidikan… saya yakin sehabis PL tidak akan terjadi apa-apa, Jie pun tak akan kembali ke sana… Tahu kenapa?

Kenapa?

1.Waktu 3 bulan tidak akan memberikan pengaruh yang besar, apa lagi ini satu bidang pelajaran saja
2.kalau sudah wisuda, kamu akan TES PNS, kemungkinan kecil ditempatkan di sana, kalau honor, gajinya kecil sekali.. Saya berpikir realistis saja, tanpa menafikan semangat seorang Jie,
Tapi yang penting usahakan? Walau kecil, tetap perubahan.

Sepertinya aku mulai sedikit memasukkan ini ke dalam plan masa depanku. Jangka Panjang. Kemarin sempat berpikir, kalau terjun ke dunia sekolah. Mengajar. Berinteraksi langsung dengan anak-anak, paling banter jadi kepsek. Tapi… ada banyak hal-hal besar lainnya yang mesti kau tahu, Jie!!